2009/04/14

HUTAN PELUANG DAN HARAPAN

A. REBOISASI DAN REHABILITASI

Dewasa ini dan ke depan, kegiatan reboisasi dan rehabilitasi hutan merupakan aspek penting yang harus dilaksanakan guna mempertahankan produktifitas sumber daya hutan secara berkelanjutan. Hal ini mengingat luas lahan kritis yang ada di wilayah Propinsi Kalimantan Tengah sudah mencapai angka yang memprihatinkan yakni mencapai areal seluas 4.331.092 Ha, yang terdiri dari lahan kritis di dalam kawasan hutan seluas 2.815.803 Ha dan lahan kritis di luar kawasan hutan seluas 1.515.389 Ha.

Dalam rangka melaksanakan kegiatan reboisasi dan rehabilitasi lahan dan hutan tersebut selama ini dan untuk selanjutnya dilaksanakan melalui beberapa program atau kegiatan secara simultan, baik yang dilaksanakan secara mandiri dan terintegrasi dengan kegiatan pengusahaan hutan oleh pemegang HPH/HPHTI maupun melalui proyek-proyek pembangunan, sebagai berikut :

1. Melalui Sistem Silvikultur TPTI

Dalam sistem silvikultur TPTI tanggung jawab untuk mempertahankan dan meningkatkan produktifitas hutan oleh pemegang HPH secara jelas dan tegas telah diatur dalam 11 (sebelas) tahapan TPTI, yakni sejak tahapan yang ke-5 dan seterusnya yang juga dikenal sebagai kegiatan pembinaan hutan, yang dapat pula diartikan sebagai kegiatan rehabilitasi kawasan hutan di dalam areal kerja HPH. Disamping itu, penerapan selective cutting atau pembatasan limit diameter pohon yang boleh ditebang secara langsung atau tidak langsung juga merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari upaya-upaya untuk mempertahankan dan meningkatkan produktifitas hutan.

Secara nyata implementasi kegiatan rehabilitasi kawasan hutan dengan sistem silvikultur TPTI tersebut oleh para pemegang HPH berupa :

a)Kegiatan perkayaan; merupakan kegiatan penanaman permudaan alam setempat dengan maksud memperkaya struktur tegakan dan potensinya dengan membuat jalur-jalur tanam di areal-areal tertentu di dalam blok-blok kerja HPH yang diidentifikasi memiliki potensi kurang atau bahkan tidak potensial (£ 20 M3/Ha), dengan jarak tanam setiap interval 5 meter.
b)Kegiatan penanaman; yakni kegiatan penanaman permudaan alam setempat maupun jenis pendatang (fast growing species) pada lokasi-lokasi tanah kosong, bekas jalan sarad, bekas base camp, bekas TPK/TPn, dan lain-lain di dalam areal kerja HPH.

Adapun realisasi pelaksanaan sistem silvikultur TPTI oleh para pemegang HPH dalam 2 (dua) tahun terakhir ini berturut-turut mencapai 91,63 % untuk tahun RKT-PH 1999/2000 dan 82,50 % untuk tahun RKT-PH 2000.

Prosentase pencapaian realisasi TPTI tersebut memang relatif cukup besar atau dapat dilkatakan bahwa implementasi pelaksanaan TPTI oleh para pemegang HPH berjalan cukup baik, setidaknya menurut data yang dihimpun dari Laporan Bulanan perusahaan HPH. Namun hal tersebut tampaknya tidak sinkron dengan kenyataan di lapangan, dimana potensi per satuan luas kawasan hutan produksi yang cenderung terus menerus mengalami penurunan (terdegradasi) dari tahun ke tahun. Semestinya apabila TPTI dilaksanakan secara benar di lapangan tentu akan berimplikasi pada meningkatnya produktifitas tegakan termasuk berlangsungnya proses regenerasi hutan secara normal atau terjadi suksesi hutan.

Oleh karena itu, evaluasi terhadap pelaksanaan sistem silvikultur TPTI hendaknya tidak semata-mata melihat data pencapaian realisasi terhadap target kegiatannya, tetapi juga dilakukan dengan melakukan evaluasi terhadap tingkat keberhasilan dari parameter-parameter yang terealisasi tersebut.

Misalnya, menurut laporan perusahaan telah dilaksanakan penanaman/ pengayaan sejumlah 90.000 anakan di areal kerjanya dari target 100.000 anakan atau realisasi 90 %. Yang perlu dikaji dan dievaluasi adalah justru seberapa banyak dari 90.000 anakan tersebut yang berhasil tumbuh normal untuk mencapai tingkatan-tingkatan pertumbuhan tegakan, mulai dari berapa yang mampu tumbuh mencapai tingkat semai (seedling), tingkat sapihan (sapling), tingkat tiang (pole) dan yang mencapai tingkat pohon (tree) pengganti tegakan yang ditebang. Jadi yang dilihat dan dinilai bukanlah angka 90 %-nya itu semata-mata.

2. Melalui Sistem Silvikultur TPTJ

Disamping sistem silvikultur TPTI, beberapa tahun belakangan salah satu sistem silvikultur yang juga diterapkan dalam kegiatan pengusahaan hutan di Kalimantan Tengah adalah sistem silvikultur Tebang Pilih dan Tanam Jalur (TPTJ).
Hakekat penerapan sistem silvikultur TPTJ pada dasarnya adalah untuk mengantisipasi menurunnya potensi tegakan per satuan hektar pada rotasi kedua pengusahaan hutan sekaligus menerapkan fungsi rehabilitasi atas seluruh areal bekas tebangan di dalam areal kerja HPH yang bersangkutan berdasarkan aturan-aturan teknis yang tertuang dalam buku RKT-PH.
Penurunan limit diameter yang boleh ditebang (dibandingkan dengan TPTI) yakni menjadi Æ 40 cm up memang dapat mendongkrak produksi per satuan hektar HPH yang bersangkutan. Pada sisi lain, intensifnya kegiatan penaman pada setiap jalur tanam dalam TPTJ merupakan hal yang cukup menjanjikan dalam meningkatkan produktifitas hutan produksi alam.
Di Kalimantan Tengah saat ini terdapat 11 (sebelas) unit HPH yang menerapkan sistem silvikultur TPTJ, terdiri dari :

- 4 (empat) unit HPH Murni

- 7 (tujuh) unit HPH Penugasan oleh Menteri Kehutanan dan Perkebunan yang dikelola oleh BUMN PT. INHUTANI III.

Dalam penerapan sistem silvikultur TPTJ ini khususnya pada daerah-daerah yang bertopografi bergelombang hingga berbukit (umumnya HPT), diperlukan kehati-hatian ekstra guna menghindari dampak sampingan yang mungkin ditimbulkan, seperti bahaya erosi atau longsor. Bahkan untuk areal-areal HPH dengan karakteristik topografi yang demikian perlu dipertimbangkan layak tidaknya penerapan sistem silvikultur TPTJ, sama halnya dengan kondisi pada hutan rawa.
Penurunan batas diameter pohon yang boleh ditebang hingga diameter 40 cm memiliki konsekuensi akan semakin banyak jumlah pohon (N) yang ditebang guna mengejar perolehan volume (V) per satuan hektarnya. Hal itu berarti faktor permudaan atau penanaman pada jalur-jalur tanam yang dibuat hendaknya betul-betul diperhitungkan baik dari kuantitas maupun kualitas tanaman sehingga keseimbangan tegakan hutan tetap dapat terpelihara. Artinya, N yang dipungut harus minimal sebanding dengan N yang ditanam dengan memperhatikan faktor keberhasilan tumbuh normal (N++).

3. Hutan Tanaman Industri (HTI)
Pembangunan Hutan Tanaman Industri (HTI) merupakan bentuk lain dari upaya melakukan rehabilitasi lahan di dalam kawasan hutan sebagai hutan tanaman. Sepanjang pembangunan HTI tersebut dilaksanakan pada kawasan hutan yang memang tidak produktif lagi, maka setidaknya akan tercipta 2 (dua) manfaat utama dari program tersebut, yakni :
Rehabilitasi lahan tidak produktif menjadi areal produktif yang mempengaruhi aspek ketahanan lahan (faktor edaphis) dan ketahanan hidro-orologis.

Peningkatan produktifitas lahan yang menghasilkan produksi kayu sebagai penghara industri dari hutan monokultur yang dibangun.

Pembangunan HTI di Kalimantan Tengah telah berlangsung sejak tahun 1992, hingga sekarang terdapat sebanyak 21 unit HPHTI meliputi areal seluas 359.690 Ha, yang terdiri dari :

- HTI Trans sebanyak 15 unit = 158.995 Ha

- HTI Murni sebanyak 5 unit = 108.545 Ha

- HTI Pulp sebanyak 1 unit = 92.150 Ha.



Apabila dilihat dari lamanya kegiatan pembangunan HTI di Kalimantan Tengah, yakni sejak tahun 1992, hal itu berarti setelah 9 tahun berjalan (tahun 2001 ini) semestinya sudah memasuki masa panen mengingat jenis-jenis tanaman yang dikembangkan dalam HTI umumnya adalah dari kelompok jenis tanaman yang cepat tumbuh dengan daur pendek atau fast growing species. Namun kenyataannya adalah bahwa hingga sekarang belum ada perusahaan HTI yang memasuki masa panen terhadap tanaman yang mereka tanam.

Ditinjau dari segi jumlah unit HTI yang dibangun dan luasnya areal HTI yang mencapai 359.690 Ha tersebut, disamping Pemerintah Propinsi dan Kabupaten, Pemerintah Pusat sangat diharapkan dukungannya secara nyata dalam pembangunan industri pulp dan kertas di daerah dengan jalan menyerahkan kewenangan perijinan industri kehutanan sepenuhnya kepada daerah. Kebutuhan tersebut setidaknya 3 tahun ke depan sudah dapat terealisasi mengingat produksi kayu dari areal HTI yang cukup luas tersebut dimana daur tanaman HTI yang dikembangkan berkisar rata-rata 12 tahun.

4. Melalui Proyek Pembangunan

Dalam rangka mempertahankan dan meningkatkan produktifitas lahan, baik di dalam kawasan hutan maupun di luar kawasan hutan, selain yang dilaksanakan oleh para pemegang HPH dan HPHTI yang terintegrasi dengan kegiatan pengusahaan hutan di dalam areal kerjanya, juga dilaksanakan melalui proyek-proyek pembangunan, baik dengan sumber dana APBD (Proyek Bantuan Reboisasi) maupun sumber dana Pusat (DAK-DR).

Proyek Bantuan Reboisasi (APBD) dalam tahun 2000 dilaksanakan tersebar di 5 (lima) Kabupaten/Kota dengan jumlah angaraan seluruhnya sebesar Rp. 150.000.000,- dengan realisasi sebesar Rp. 148.425.000,- (98,95 %).

Untuk tahun-tahun yang akan datang, pelaksanaan kegiatan rehabilitasi lahan dan kawasan hutan secara khusus mendapat alokasi anggaran yang bersumber dari Dana Alokasi Khusus Dana Reboisasi 40 % (DAK-DR 40 %).

Mekanisme pengalokasian dan penganggaran DAK-DR 40 % tersebut mengacu pada surat Sekretaris Jenderal Departemen Kehutanan cq. Kepala Biro Perencanaan No. 1120/II/REN/2001 tanggal 30 Mei 2001. Berdasarkan pedoman yang ditetapkan tersebut, alokasi DAK-DR 40 % untuk setiap Kabupaten/Kota didasarkan pada 8 (delapan) kriteria, yaitu :

a) Proyeksi penerimaan DR masing-masing Kabupaten/Kota

b) Luas lahan kritis

c) Tingkat kekritisan ekosistem DAS/Sub DAS (DAS prioritas)

d) Jumlah desa tertinggal

e) Jumlah penduduk pra sejahtera

f) Jumlah pegawai di bidang kehutanan

g) Kepadatan penduduk agraris

h) Pelaksanaan kegiatan penghijauan/reboisasi pada tahun-tahun lampau.



Program-program rehabilitasi yang telah disusun memanfaatkan sumber dana DAK-DR 40 % tersebut meliputi :

a) Rehabilitasi di dalam Kawasan Hutan :

b) Rehabilitasi Hutan Produksi di dalam areal HPH

c) Rehabilitasi Hutan Produksi di luar areal HPH

d) Rehabilitasi Hutan Produksi eks HPH

e) Rehabilitasi hutan dan lahan di luar Kawasan Hutan

f) Rehabilitasi hutan dan lahan eks PLG

g) Rehabilitasi Kawasan Hutan Mangrove

h) Rehabilitasi Kawasan Hutan Lindung

i) Rehabilitasi lahan eks Tambang Rakyat

Melalui program-program reboisasi dan rehabilitasi lahan dan hutan sebagaimana dikemukakan di atas harapan yang paling mendasar tentunya adalah terpeliharanya kualitas dan kuantitas sumber daya hutan dan lahan yang produktif dan mampu memberikan manfaat secara lestari bagi pembangunan dan masyarakat. Di sisi lain, adanya program-program tersebut tentu berimplikasi pada pembukaan lapangan kerja baru kepada masyarakat khususnya masyarakat setempat yang selama ini hidup dan mengantungkan hidupnya dengan sumber daya alam hutan. Tidak dapat dipungkiri bahwa partisipasi masyarakat merupakan kata kunci dari keberhasilan program reboisasi dan rehabilitasi hutan dan lahan.

Dengan pemahaman yang demikian, maka secara khusus dalam hal pelaksanaan kegiatan reboisasi dan rehabilitasi hutan dan lahan yang dibiayai dengan sumber dana DAK-DR 40 % dengan alokasi dana yang direncanakan cukup besar, dalam pelaksanaannya di-tender-kan kepada masyarakat luas, dimana masyarakat setempat harus dilibatkan secara pro-aktif sejak dari tahapan perencanaan kegiatan hingga operasional di lapangan.

Bahwa demi tercapainya sasaran dan tujuan dari kegiatan rehabilitasi hutan dan lahan tidak dapat dipandang hanya dari segi teknis operasional semata-mata (pembibitan, penanaman, pemeliharaan, dll) tetapi lebih merupakan satu kesatuan dengan hal-hal yang terkait dengan kegiatan pra kondisi lapangan seperti penelitian dan pengembangan (litbang), peningkatan kualitas SDM melalui kegiatan pelatihan bahkan kegiatan pemantauan dan evaluasi pelaksanaannya juga akan sangat menentukan tingkat keberhasilan yang ingin dicapai dalam penyelenggaraan rahabilitasi hutan dan lahan. Oleh karena itu, dalam hal penggunaan alokasi DAK-DR 40 % harus mencakup semua aspek kegiatan tersebut, dimana setidaknya 5 – 10 % dari alokasi DAK-DR 40 % yang merupakan bagian Daerah Penghasil dialokasikan secara khusus untuk kegiatan-kegiatan penelitian, pelatihan dan pemantauan - evaluasi sepanjang terkait dengan pelaksanaan rehabilitasi hutan dan lahan yang pengelolaannya terpusat di Propinsi.

B.PENINGKATAN PRODUKTIFITAS PEMANFAATAN KAWASAN HUTAN

Selama lebih dari tiga dekade yang lalu bahkan hingga sekarang ukuran produktifitas pemanfaatan sumber daya alam hutan umumnya selalu menggunakan parameter kubikasi produksi kayu dari suatu luasan tertentu, disamping beberapa produk hasil hutan bukan kayu. Hal tersebut tentu sudah tidak relevan lagi dengan perkembangan yang ada dan tantangan ke depan berdasarkan kondisi obyektif sumber daya yang tersedia.

Memasuki rotasi kedua kegiatan pengelolaan dan pengusahaan hutan yang ditandai dengan laju deforestasi dan degradasi potensi yang sangat significant dengan salah satu indikatornya adalah semakin luasnya areal-areal tidak produktif di dalam kawasan hutan, maka diversifikasi produk dari kawasan hutan mutlak diperlukan dan merupakan suatu alternatif yang bijaksana dalam mempertahankan bahkan meningkatkan produktifitas hutan. Bahwa kita tidak lagi harus terpaku pada hasil hutan kayu (dan atau bukan kayu) semata-mata yang dapat dipungut dari dalam kawasan hutan, tetapi perlu ditempuh langkah-langkah terobosan berupa diversifikasi produk yang mampu dihasilkan dari kawasan hutan atau melalui pemanfaatan kawasan hutan sebagaimana juga telah diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan, hal mana dapat dilakukan dengan tanpa merubah fungsi kawasan hutan itu sendiri.

Salah satu langkah diversifikasi dimaksud yang dapat diterapkan adalah pemanfaatan sekar-sekat bakar di dalam Kawasan Hutan Produksi sebagai areal atau lokasi bagi pengembangan budidaya kehutanan non kayu, misalnya agroforestry dan pengembangan tanaman pertanian secara umum, baik pada hutan multikultur maupun hutan monokultur.

Sebagaimana diketahui bersama bahwa pengelolaan dan pengusahaan hutan oleh pemegang HPH selama ini menganut siklus tebangan selama 35 tahun (atas dasar asumsi pertumbuhan riap diameter rata-rata sebesar 1 cm per tahun). Hal tersebut pula yang mendasari bahwa suatu areal HPH dibagi atas 7 (tujuh) blok Rencana Karya Lima Tahun (RKL), dimana pada saat RKL ke-VIII kegiatan pengusahaan hutan secara teoritis kembali lagi pada Blok RKL yang pertama, dan seterusnya.

Secara teknis di lapangan, setiap HPH di lapangan diwajibkan membuat batas areal kerja baik berupa batas alam maupun batas buatan. Demikian pula halnya dengan Blok-Blok RKL yang juga dibatasi oleh batas-batas blok secara nyata di lapangan. Adanya batas-batas fisik di lapangan tersebut ternyata selama ini hal tersebut tidaklah menjamin keamanan areal yang dikelola oleh para pemegang HPH mengingat keterlibatan dan partisipasi aktif masyarakat sangat minim bahkan tidak ada sama sekali.
Kewajiban pemegang HPH dalam membuat batas areal kerja HPH maupun batas Blok RKL tersebut untuk masa yang akan datang dapat dikembangkan dengan membuat sekat-sekat bakar dengan jarak sekitar 50 – 75 meter dari tepi batas dalam konteks pemanfaatan Kawasan Hutan Produksi, yang dalam hal pengelolaan dan pemanfaatannya diserahkan kepada masyarakat setempat dengan bimbingan dari pemegang HPH yang bersangkutan dengan mengadopsi semacam Pola Bapak Angkat atau kemitraan antara HPH dengan masyarakat setempat untuk cakupan kegiatan yang berbeda. Masyarakat diserahkan untuk mengelola areal pada sekat-sekat bakar dengan orientasi produk berupa tanaman pertanian secara umum (agroforestry), sementara pemegang HPH mengelola areal kerjanya dengan orientasi produk berupa kayu.
Bisa dibayangkan betapa besar potensi yang dapat digali dan dikembangkan melalui pengelolaan sekat-sekat bakar sebagai batas areal kerja HPH maupun batas blok-blok kerja di lapangan tersebut. Misalnya suatu HPH dengan luas areal ± 45.000 Ha setidaknya memiliki batas areal kerja sepanjang 180 Km dan di dalamnya terdapat sebanyak 7 (tujuh) Blok RKL dengan asumsi total panjang batas blok mencapai 150 Km, maka hal tersebut berarti akan terdapat potensi sekar bakar di dalam areal kerja HPH seluruhnya sepanjang ± 330 Km. Kalau sekar bakar dibuat dengan jarak 50 – 75 meter dari tepi batas, itu artinya setara dengan luasan mencapai 1.650 – 2.475 Ha per HPH yang dapat dikelola oleh masyarakat setempat.
Melalui kebijakan pemanfaatan kawasan Hutan Produksi dengan pengelolaan sekat bakar semacam itu maka akan dapat diperoleh berbagai manfaat, baik bagi sumber daya hutan itu sendiri, masyarakat maupun pemegang HPH, antara lain :

-Luas kawasan Hutan Produksi tidak mengalami pengurangan (tetap) karena pengelolaan sekar bakar tidak merubah fungsi kawasan hutan.

-Diversifikasi dan ekstensifikasi jenis produk dari dalam kawasan hutan, selain hasil hutan juga diperoleh hasil-hasil non kehutanan.

-Terciptanya kemantapan kawasan hutan sebagai akibat dari timbulnya rasa memiliki (sense of belonging) dari masyarakat setempat terhadap kawasan hutan.

-Terpeliharanya keamanan kawasan hutan, dimana masyarakat setempat pengelola sekat bakar pada batas areal kerja HPH dengan sendirinya juga akan mengamankan “asset” mereka dari berbagai bentuk gangguan atau perambahan.

-Pemegang HPH dapat melaksanakan aktifitasnya dengan dukungan penuh dari masyarakat setempat.

-Pemberdayaan masyarakat setempat

-Terciptanya lapangan usaha dan ksempatan kerja baru sebagai sumber penghasilan yang dapat diandalkan oleh masyarakat setempat.

-Meningkatnya penghasilan (income) pemegang HPH sebagai dampak dari multiproduk yang dihasilkan.

Kesemuanya itu adalah merupakan komponen penyusun dari apa yang dinamakan dengan meningkatnya produktifitas kawasan hutan yang bermuara pada kelestarian sumber daya alam hutan.

C.PENINGKATAN PRODUKTIFITAS PEMANFAATAN HASIL HUTAN

Berdasarkan kenyataan selama ini bahwa kegiatan eksploitasi hutan yang dilakukan dengan menggunakan sistem Tebang Pilih Indonesia (baik TPTI, THPB, THPA, dan TPTJ) telah menyebabkan banyak bagian-bagian pohon berupa limbah yang tidak dan belum dapat dimanfaatkan secara maksimal. Di hutan-hutan bekas tebangan ditemukan banyak sekali pohon yang rusak atau kayu bulat yang tidak memenuhi syarat sortimen yang ditinggalkan.

Besarnya limbah pembalakan yang terdapat dihutan-hutan dapat mencapai jumlah lebih dari 40 % dengan perincian sebagai berikut :

- Sisa tunggak = 2 persen

- Batang cacat = 30 persen

- Cabang dan ranting = 8 persen

Dengan mengacu pada data produksi kayu di Propinsi Kalimantan Tengah sekitar 2,5 juta M3, maka sebanyak ± 1 juta M3 yang belum termanfaatkan/terbuang. Selain di hutan-hutan, limbah kayu yang muncul di Industri pengolahan kayu hilir maupun hulu yang mencapai jumlah lebih dari 50 %. Suatu jumlah yang sangat berarti.

Berdasarkan gambaran tersebut di atas, maka limbah kayu merupakan potensi yang sangat berarti dan berharga bila dapat dimanfaatkan. Untuk itu di masa mendatang kegiatan yang mengarah dalam rangka peningkatan produktifitas dan efisiensi pemanfaatan hasil hutan sangatlah mendesak dilakukan, hal itu diperlukan untuk dapat mengurangi sekecil mungkin limbah kayu yang terbuang.

Berbagai langkah dapat ditempuh, antara lain dengan memberikan kemudahan dalam pemanfatan limbah tebangan, hal itu telah dilakukan sejak beberapa tahun lalu dengan kemudahan pemberian target Limbah bagi pemegang HPH, selain itu mendorong para pemegang HPH/IPK untuk mengoperasikan Portable Saw.

Kendala dan penyebab belum mampu dimanfaatkannya limbah kayu yang tertinggal di lokasi-lokasi tebangan antara lain karena :

- Kebijakan dalam rangka pemanfaatan limbah kayu terkendala kakunya kebijakan yang telah dikeluarkan oleh Departemen Kehutanan selama ini antara lain prioritas pemanfaatan limbah kayu sisa tebangan terbatas oleh para pemegang HPH dengan besarnya target sebesar 15 % dari total target produksi RKT-PH (TPTI).

- Peralatan eksploitasi yang dimiliki oleh para pemegang HPH tidak sesuai untuk pemanfaatan limbah, terutama sarana angkutan kayu yang tersedia dikhususkan untuk keperluan pengangkutan kayu produksi yang berkualitas untuk spesifikasi ekspor. Sedangkan pasaran dan kegunaan limbah kayu masih terbatas untuk keperluan lokal dengan harga yang tidak kompetitif.

Kebijakan Pemerintah Pusat, dalam hal ini Departemen Kehutanan yang memperbolehkan HPH yang bersangkutan untuk memanfaatkan limbah kayu eksploitasi sebesar 15 % dari total target yang diberikan, bahkan bukan sekedar prioritas tetapi lebih merupakan monopoli HPH, akan berdampak pada besarnya produksi limbah itu sendiri. Bahwa tidak ada keseriusan dari pemegang HPH untuk berusaha meminimalkan jumlah limbah kayu dari kegiatan eksploitasi yang mereka kerjakan. Semakin besar limbah dari kegiatan eksploitasi hal tersebut sebenarnya mencerminkan betapa buruknya sistem eksploitasi yang diterapkan di lapangan, bahkan dapat dikatakan bahwa pemegang HPH itu sangat tidak perduli dengan kelestarian sumber daya alam hutan atau efisiensi sumber daya.

Oleh karena itu perlu diambil langkah-langkah kebijakan yang dapat diterapkan secara efektif atau dalam kaitannya dengan pemanfaatan limbah kayu baik yang berupa limbah eksploitasi (di blok-blok tebangan) maupun limbah industri diserahkan sepenuhnya kepada daerah.

C.PENINGKATAN PARTISIPASI MASYARAKAT

Peranan sektor kehutanan dalam percepatan pembangunan Kalimantan Tengah seperti tahun-tahun sebelumnya, maka untuk ke depan semakin memegang peranan yang sangat strategis. Disamping sebagai kontributor utama PDRB Propinsi Kalimantan Tengah, sektor kehutanan juga memainkan peranan yang multiflier effect terhadap berbagai aspek kehidupan masyarakat dan daerah, terlebih-lebih di era Otonomi Daerah yang telah dimulai tahun 2001 ini.
Pembangunan kehutanan di Kalimantan Tengah secara konsisten akan dilaksanakan dengan paradigma baru yakni pengelolaan hutan untuk kesejahteraan masyarakat dan menjamin terselenggaranya asas-asas pemerataan, keadilan dan berkelanjutan dalam tatanan sistem pemerintahan yang desentralistik yang dijiwai oleh semangat reformasi dan otonomi. Hal tersebut mengandung suatu pengertian bahwa tujuan utama atau the main focus dari pembangunan kehutanan yang dilaksanakan adalah untuk kesejahteraan masyarakat.
Bahwa untuk selanjutnya masyarakat harus ditempatkan sebagai aktor terdepan dalam kegiatan pengelolaan hutan, bukan hanya sebagai penonton seperti sebelumnya. Oleh karena itu maka pemberdayaan masyarakat menjadi central point dari seluruh aspek kegiatan pengelolaan dan pengusahaan hutan di Kalimantan Tengah. Bahwa masyarakat harus “disiapkan” dalam arti diberdayakan sesuai dengan potensi obyektif yang dimilikinya dengan jalan mengeliminir seminimal mungkin segala bentuk kelemahan yang selama ini mereka miliki.
Untuk tujuan tersebut maka langkah strategis yang ditempuh adalah dengan menggalang program kemitraan pengusahaan hutan antara para pemegang HPH/HPHTI dengan masyarakat setempat.
Sebagaimana konsep Kepala Dinas Kehutanan Propinsi Kalimantan Tengah yang berjudul Kemitraan Koperasi dan HPH, yang kemudian disempurnakan menjadi Kemitraan Masyarakat dan HPH, potensi kemitraan pengusahaan hutan yang dapat dikembangkan di Kalimantan Tengah, dapat dikelompokkan sebagai berikut :

1)Kemitraan Kepemilikan Saham (Share holder Partnership)

2)Kemitraan Aktifitas (Activity Partnership), yang terdiri atas :

a)Kemitraan pada Kegiatan Utama pengusahaan hutan (Main Activity Partnership)

b)Kemitraan pada Kegiatan Penunjang pengusahaan hutan (Complementary Activity Partnership)

c)Kemitraan pada Kegiatan Lainnya yang dilaksanakan oleh HPH (Miscellaneous Activity Partnership).

Mengingat kondisi dan potensi obyektif desa baik yang berada di sekitar hutan maupun di dalam areal hutan dimana kegiatan pengusahaan hutan oleh HPH berlangsung yang serba “kurang” dan “terbatas” baik dari segi modal, pengalaman, keahlian, pendidikan dan ketrampilan, maka Kemitraan Aktifitas (Activity Partnership) dipandang merupakan pilihan yang ideal dalam rangka “memberdayakan” (empowering) masyarakat setempat.

Kemitraan Aktifitas (Activity Partnership) tersebut bertujuan untuk “mempersiapkan” masyarakat setempat, baik dalam hal permodalan, pengalaman dan keahlian di bidang pengelolaan dan pengusahaan hutan secara lestari, hingga pada saatnya nanti mereka mampu berdiri sendiri (kuat modal dan cukup pengalaman maupun keahlian).
Khusus dalam hal Kemitraan Kepemilikan Saham (Share holder Partnership), telah diatur secara tegas dan jelas dalam PP No. 6 Tahun 1999 (meskipun perlu penyesuaian sesuai UU No. 41 Tahun 2000), SK Menteri Kehutanan dan Perkebunan masing-masing No. 307/Kpts-II/1999, No. 312/Kpts-II/1999 dan No. 313/Kpts-II/1999 yang mewajibkan setiap pemilik HPH (HPH baru atau HPH perpanjangan) untuk mengalokasikan minimal 20 % sahamnya kepada masyarakat setempat melalui lembaga koperasi, dimana 10 % diantaranya langsung berupa hibah pada saat SK HPH diterbitkan.
Realisasi kepemilikan saham HPH oleh masyarakat setempat tersebut sampai dengan tahun 2001 di Kalimantan Tengah terdapat pada 14 (empat belas) unit HPH baru, yang umumnya berupa :

- Saham milik koperasi masyarakat sekitar hutan, dan

- Saham milik pondok pesantren di Kabupaten setempat.

Sedangkan dalam hal Kemitraan Aktifitas (Activity Partnership) antara HPH dengan masyarakat setempat, yang selama ini telah berjalan, seperti :



- Kerjasama pemiliran kayu (rakit)

- Kerjasama penebangan

- Kerjasama pemasaran hasil-hasil pertanian (ladang)

- Kerjasama pendidikan.

Adanya bentuk kerjasama tersebut masih sangat terbatas, baik dalam hal scope kegiatannya maupun manfaat yang diperoleh. Pada sisi lain, sebenarnya potensi kemitraan yang ada sangat luas dan menjanjikan seperti yang tertuang dalam konsep Kemitraan Masyarakat dan HPH tersebut.

Dalam hal kepemilikan saham koperasi pada HPH (di Kalimantan Tengah pada saat ini terdapat 14 HPH baru yang mengacu pada ketentuan tersebut di atas) maka setidaknya terdapat 2 (dua) hal yang perlu mendapat perhatian serius kita bersama, yakni :

- Bahwa lembaga koperasi yang diperbolehkan memiliki saham hibah pada HPH adalah koperasi yang beranggotakan masyarakat setempat di dalam dan di sekitar areal kerja HPH yang bersangkutan serta berkedudukan di desa terdekat dan atau bahkan yang berada di dalam areal HPH. Jangan sampai terjadi HPH-nya beroperasi di Kalimantan Tengah, tetapi koperasi mitranya justru adalah koperasi di Jawa.

- Pemerintah Pusat baik Departemen Kehutanan maupun departemen terkait lainnya seperti Departemen Keuangan hendaknya memberikan perhatian khusus dan prioritas penyelesaian masalah kepemilikan saham koperasi pada HPH tersebut, bukan hanya sekedar “retorika” dalam aturan saja. Pengukuhan atau pengesahan kepemilikan saham koperasi masyarakat tersebut sangat penting artinya sehingga pada saatnya koperasi tersebut dapat menerima bagian deviden yang menjadi haknya setiap tahun. Apabila kebijakan tersebut disamaratakan dengan lembaga usaha lainnya, maka tentu saja masyarakat sebagai anggota koperasi tidak akan mampu merealisasi sejumlah modal awal disetor atas persen saham yang dihibahkan tersebut.

E.DUKUNGAN PEMERINTAH PUSAT

1.Umum

Meskipun potensi berdasarkan kondisi obyektif Propinsi Kalimantan Tengah di sektor kehutanan memang sangat menjanjikan untuk dikelola dan dimanfaatkan secara maksimal pada waktu-waktu yang akan datang, terlebih-lebih dalam era Otonomi Daerah, namun seiring dengan besarnya harapan di sektor kehutanan tersebut diyakini bahwa tantangan maupun hambatan ke depan akan semakin kompleks baik dalam hal kualitas maupun kuantitasnya.
Untuk itu maka dukungan dari Pemerintah Pusat khususnya Departemen Kehutanan sangat diharapkan guna mendukung kelancaran pembangunan sektor kehutanan di Propinsi Kalimantan Tengah yang berbasiskan kerakyatan dan berwawasan lingkungan secara lestari. Terdapat sedikitnya 3 (tiga) hal utama yang perlu mendapat dukungan dari pihak Pemerintah Pusat, yaitu masalah kebijakan, data dan informasi serta pembiayaan.

a.Kebijakan

Disadari bahwa pelaksanaan pembangunan secara berkesinambungan oleh suatu daerah tidak mungkin dapat berdiri sendiri. Bahwa pembangunan daerah merupakan bagian integral dari pembangunan nasional. Dalam pengertian tersebut maka kebijakan nasional akan menjadi payung dari kebijakan di daerah hingga operasionalisasinya di lapangan. Meskipun demikian, hendaknya dalam penyusunan kebijakan di tingkat pusat hendaknya selalu memperhatikan karakteristik setiap daerah dan kondisi obyektif yang ada dengan selalu mengedepankan aspek pemberdayaan masyarakat.
Suatu kebijakan sektor kehutanan tentunya akan mudah dilaksanakan atau dijabarkan lebih lanjut di daerah kalau hal tersebut tertuang dalam suatu regulasi yang mantap dan obyektif. Obyektifitas disini akan menjadi sangat penting artinya di tahun-tahun yang akan datang seiring dengan telah diberlakukannya Otonomi Daerah, termasuk bagaimana mengakomodasi berbagai tuntutan dan kebutuhan daerah yang pokok, yang bila tidak terpenuhi pada gilirannya akan berimbas hingga ke skala nasional bahkan internasional.
Dalam waktu dekat, semestinya penjabaran Undang-Undang No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan ke dalam Peraturan Pemerintah segera dapat diselesaikan, mengingat hal tersebut telah tertunda cukup lama.
Hal penting lainnya adalah bahwa dalam penyusunan kebijakan, Pemerintah Pusat hendaknya benar-benar konsekwen dengan pelaksanaan Otonomi Daerah yang telah menjadi komitmen bersama secara nasional.

b.Data dan Informasi

Salah satu kendala yang sering dihadapi di daerah adalah terbatasnya data dan informasi maupun keterlambatan aliran arus data dan informasi yang sampai di daerah, terutama yang menyangkut kebijakan-kebijakan nasional, regional bahkan internasional termasuk kesepakatan-kesepakatan global. Hal tersebut bukan disebabkan karena kendala media komunikasi mengingat di Propinsi Kalimantan Tengah berbagai fasilitas untuk itu telah established dan exist, seperti telepon, faxcimili, e-mail, internet, Geograpichal Information System (GIS), dan lain-lain, tetapi lebih dimungkinkan karena mekanisme dan managemen distribusi data dan informasi di tingkat pusat atau bahkan aspek sosialisasi ke daerah.

Hal tersebut (data dan informasi) bukan hanya untuk hal-hal yang terkait dengan regulasi kehutanan, tetapi juga menyangkut data dan informasi aktual yang sangat dibutuhkan di daerah.

Sebagai contoh, dalam hal penanggulangan bencana kebakaran hutan dan lahan tahun 2001 ini, Pemerintah Propinsi Kalimantan Tengah cq. Dinas Kehutanan Propinsi Kalimantan Tengah secara aktif dan terus menerus berusaha mengumpulkan data hotspot yang diliput oleh satelit NOAA dengan jalan membuka homepage Departemen Kehutanan di internet setiap hari sebagai bahan koordinasi dan langkah tindak lanjut di daerah. Sayangnya, data yang ada di homepage tersebut justru sudah tidak valid lagi (tertinggal 2 hari) dan tidak menyajikan data koordinat hotspot dimaksud. Beruntung kemudian dapat diperoleh akses ke sumber pengolah data hotspot satelit NOAA tersebut sehingga data dan informasi harian dapat diperoleh.

c.Pembiayaan

Bagaimanapun juga dalam pelaksanaan pembangunan kehutanan di daerah sangat memerlukan dukungan pembiayaan (dana) dari Pemerintah Pusat. Dengan dilandasi pemahaman bahwa hutan dengan segala potensinya yang ada di Kalimantan Tengah bukan semata-mata menjadi milik Propinsi Kalimantan Tengah, maka keberhasilan pembangunan kehutanan di Propinsi Kalimantan Tengah tidak terlepas dari dukungan dana dari pemerintah pusat, yang selama ini turun ke daerah dalam bentuk proyek-proyek pembangunan tetapi dirasakan masih jauh dari cukup sesuai dengan kebutuhan yang ada. Tidak jarang terjadi pemotongan usulan anggaran yang mengakibatkan tertundanya bahkan tehambatnya program-program yang telah direncanakan sebelumnya.

Hal mendasar lainnya adalah dukungan dana dari pusat untuk hal-hal yang sifatnya tidak terencana sebelumnya (contingency), atau sebagai “buah” dari suatu kebijakan tertentu dalam suatu waktu tertentu yang terkait dengan kebijakan yang berasal dari Pemerintah Pusat yang dilaksanakan di daerah.

Penanganan masalah Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP), kasus illegal logging bahkan bencana asap misalnya, memerlukan dana yang tidak sedikit dimana pihak Pemerintah Propinsi Kalimantan Tengah maupun Pemerintah Kabupaten setempat setidaknya dimasa transisi ini tidak memiliki ketersediaan dana yang cukup. Untuk itu diharapkan Pemerintah Pusat cq. Departemen Kehutanan dapat mengalokasikan semacam Dana Contingency yang diperhitungkan berdasarkan luas kawasan hutan di Propinsi yang bersangkutan serta permasalahan yang dihadapi.

2.Khusus

a.Penertiban TNTP

Text Box: Gambar 15 : Induk orang utan dan anaknya berbagi makanan yang terancam tersingkir di habitatnya

Dalam hal penertiban Taman Nasional Tanjung Putting (TNTP), mengacu pada Undang-Undang No. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah bahwa kewenangan dan tanggung jawab pengelolaan kawasan TNTP maupun kawasan konservasi lainnya baik secara teknis maupun operasional termasuk pembiayaannya merupakan kewenangan Pemerintah Pusat dalam hal ini Departemen Kehutanan. Namun yang terjadi selama ini terkesan pusat tidak concern dan commited dalam menertiban kawasan tersebut yang tidak saja merupakan asset daerah tetapi lebih merupakan asset nasional bahkan internasional, jutsru sebaliknya ada kecenderungan seluruh langkah yang telah ditempuh oleh Pemerintah Propinsi dan Kabupaten selama ini dianggap gagal atau tidak membuahkan hasil secara significant.
Untuk selanjutnya di waktu-waktu yang akan datang, sudah semestinya Pemerintah Pusat dalam hal ini Departemen Kehutanan tidak tinggal diam dan menunggu tetapi terjun langsung dalam upaya-upaya penertiban Kawasan TNTP secara proaktif dan nyata dengan senantiasa menggalang koordinasi dengan pihak Pemerintah Propinsi Kalimantan Tengah serta Kabupaten setempat.

b. Rehabilitasi Hutan dan Lahan (DAK-DR 40 %)
Dipahami bahwa kebijakan Dana Alokasi Khusus dari Dana Reboisasi sebesar 40 % (DAK-DR 40 %) untuk program rehabilitasi hutan dan lahan merupakan implementasi dari Undang-Undang No. 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan antara Pusat dan Daerah. Artinya bahwa meski tampaknya alokasi dana tersebut mengalir dari pusat, tetapi hal tersebut sebenarnya merupakan porsi atau hak daerah yang bersangkutan. Oleh karena itu Pemerintah Pusat (Departemen Kehutanan) sebaiknya tidak menerapkan standar ganda dengan membuat suatu kebijakan mengenai pembatasan alokasi DAK-DR 40 % porsi daerah tersebut. Artinya pada satu sisi alokasi DAK-DR 40 % tersebut diserahkan ke daerah sesuai dengan Undang-Undang, sementara di sisi lain Pemerintah Pusat membatasi penggunaannya oleh daerah seperti yang diatur dalam Pedoman Umum DAK-DR.
Hal tersebut perlu disadari bersama dan ditindaklanjuti oleh Pemerintah Pusat (Departemen Kehutanan) mengingat bahwa dalam penyelenggaraan kegiatan-kegiatan rehabilitasi hutan dan lahan tidak semata-mata berupa kegiatan fisik-teknis di lapangan, tetapi harus merupakan suatu sinergi dengan kegiatan-kegiatan pra kondisi non fisik-teknis seperti kegiatan penelitian, pelatihan dan pemantauan - evaluasi yang tentu saja juga memerlukan dukungan dana secara proporsional, yang untuk Kalimantan Tengah dengan kondisi obyektifnya dibutuhkan sekitar 5 – 10 % dari alokasi DAK-DR 40 % tersebut yang dikelola di Propinsi.

2009/04/06

Jamur Tiram untuk Antikolesterol


Jumat, 30 Agustus, 2002 oleh: Siswono
Jamur Tiram untuk Antikolesterol..!
Gizi.net - Khasiat jamur bagi kesehatan tubuh memang terbukti. Selain mengandung berbagai macam asam amino essensial, lemak, mineral, dan vitamin, juga terdapat zat penting yang berpengaruh terhadap aspek medis. Sejak berabad-abad lalu, jamur sudah menjadi makanan istimewa sehingga banyak orang menjadi penggemar.

Sudah turun-temurun masyarakat Jepang dan Cina melengkapi menu dengan jamur. Bukan saja kelezatan rasa, tetapi juga tinggi nilai gizinya. Orang Yunani kuno percaya, makan jamur menyebabkan seseorang menjadi lebih kuat dan sehat. Hasilnya mereka lebih kuat, berani dan perkasa. Firaun, Raja Mesir yang terkenal sangat keji, penghobi berat makan jamur. Saking istimewanya, raja itu menyebut jamur sebagai makanan para dewa.

Kandungan gizi

Tidak hanya menyedapkan, jamur mempunyai kandungan gizi cukup baik. Komposisi kimia yang terkandung tergantung jenis dan tempat tumbuhnya. Dari hasil penelitian, rata-rata jamur mengandung 19-35 persen protein. Dibanding beras (7,38 persen) dan gandum (13,2 persen), ia berkadar protein lebih tinggi. Asam amino esensial yang terdapat pada jamur, sekitar ada sembilan jenis dari 20 asam amino yang dikenal. Yang istimewa 72 persen lemaknya tidak jenuh, jamur juga mengandung berbagai jenis vitamin, antara lain B1 (thiamine), B2 (riboflavine), niasin dan biotin. Selain elemen mikro, jamur juga mengandung berbagai jenis mineral, antara lain K, P, Ca, Na, Mg, dan Cu. Kandungan serat mulai 7,4-24,6 persen sangat baik bagi pencernaan. Jamur mempunyai kandungan kalori yang sangat rendah sehingga cocok bagi pelaku diet.

Hasil studi di Massachusett University menyimpulkan bahwa riboflavin, asam Nicotinat, Pantothenat, dan biotin (Vitamin B) masih terpelihara dengan baik meskipun jamur telah dimasak. Hasil penelitian dari Beta Glucan Health Center menyebutkan bahwa jamur tiram (Pleurotus ostreatus) mengandung senyawa Pleuran (di Jepang, jamur tiram disebut Hiratake sebagai jamur obat), mengandung protein (19-30 persen), karbohidrat (50-60 persen), asam amino, vit B1 (thiamin), B2 (riboflavin), B3 (Niacin), B5 (asam panthotenat), B7 (biotin), Vit C dan mineral Calsium, Besi, Mg, Fosfor, K, P, S, Zn. Dapat juga sebagai antitumor, menurunkan kolesterol, dan antioksidan.

Para peneliti dari Ujagar Group (India) menyampaikan, bahwa jamur tiram memiliki nilai nutrisi yang sangat bagus dengan alasan: 100 persen sayuran dan bersih; mengandung protein tinggi dan kaya vitamin-mineral; rendah karbohidrat, lemak dan kalori; bagus untuk liver, pasien diabetes, dan menurunkan berat badan; berserat tinggi membantu pencernaan; antiviral dan antikanker; mudah memasaknya dan mudah dicerna; dan jamur tiram merupakan jamur yang paling enak rasanya dibanding jamur pangan lainnya.

Dari hasil penelitian Departemen Sain, Kementerian Industri Thailand, jamur tiram (Oyster mushroom) mempunyai kandungan: protein 5,94 persen, karbohidrat 50,59 persen, serat 1,56 persen, lemak 0,17 persen, abu 1,14 persen. Per 100 gram jamur tiram segar, mengandung 45,65 kalori, 8,9 miligram (mg) kalsium, 1,9 mg besi, 17,0 mg fosfor, 0,15 mg vitamin B-1, 0,75 mg vitamin B-2, dan 12,40 mg Vitamin C. Jamur juga mengandung folic acid yang cukup tinggi, konon mampu menyembuhkan anemia.

Sebagai perbandingan, tempe yang terbuat dari kedelai yang kaya serat dan juga sebagai sumber berbagai nutrien seperti calsium, Vitamin B, dan besi, mempunyai kandungan sebagai berikut: kalori 204, protein 17 gram, lemak 8 gram, karbohidrat 15 gram, calium 80 mg, Fe (Besi) 2 mg, dan Zn 0,2 mg.

Bisa dibandingkan dengan daging ayam yang kandungan proteinnya 18,2 gram, lemaknya 25,0 gram, namun karbohidratnya 0,0 gram dan Vitamin C-nya juga 0,0 gram. Maka, kandungan gizi jamur masih lebih komplet sehingga tidak salah apabila dikatakan jamur merupakan bahan pangan masa depan.

Antikolesterol

Disebutkan bahwa para peneliti penyakit kanker menyarankan bahwa sebaiknya manusia mengonsumsi daging merah tidak lebih dari tiga ons per hari atau kurang dari itu. Daging tersebut adalah daging sapi, kerbau, kambing, dan babi yang dapat menyebabkan risiko lebih tinggi sebagai penyebab kanker usus, dan juga kemungkinan payudara, prostat, pankreas, perut, dan kanker ginjal. Kecil kemungkinan terkena kanker apabila mengonsumsi ayam dan ikan, dan untuk beberapa kasus malahan dapat melawan kanker. Sehubungan dengan hal itu, untuk yang senang mengkonsumsi burger disarankan untuk diselang-seling dengan ayam, seafood, sayuran, dan jamur (Anonympus, 1999).

Saat ini beberapa jamur digunakan sebagai obat untuk melawan kolesterol, kanker, dan AIDS. Senyawa aktif jamur yang terkandung dikabarkan dapat sebagai antijamur, antibakteri, dan antivirus dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh dan dapat membunuh serangga dan nematoda. Pada tahun 1960, para peneliti berhasil menemukan pengaruh beberapa jamur sebagai antitumor. Komponen aktif yang dimaksud adalah polysaccharida, dan khususnya adalah Beta - D - Glucans. Sebagai standardisasi produk dari jamur tiram (Plurotus ostreatus dan P. eryngii) disebut Plovastin yang dipasaran sebagai suplemen penurun kolesterol. Komponen aktif dari Plovastin adalah statin, secara baik menghambat metabolisme kolesterol di dalam tubuh manusia (Itzkovich, 2001).

Hasil dari penelitian Bobek (1999) dari Research Institute of Nutrition Bratislava tentang "Natural products with hypolipemic and anti oxidant effect". Telah dilakukan studi pada sebuah grup dengan 57 laki-laki: perempuan = 1:1, usia setengah umur, dengan kasus hyperlipoproteinemia. Selama satu bulan mereka mengonsumsi 10 gram jamur tiram secara teratur. Kesimpulan, secara statistik sangat menjanjikan, yakni kolesterol dan serum turun 12,6 persen dan triglycerol turun 27,2 persen. Jamur tiram juga mempunyai efek antioksidan dengan turunnya hasil peroksidasi di dalam eritrosit.

Beta-1,3/1-6-Glucan secara alami berasal dari polysaccharida yang secara intensif dipelajari sejak tahun 1950 sebagai antitumor dan perangkat immunostimulating (pemicu kekebalan). Pleuran adalah Beta- 1,3/1-6-Glucan diisolasi dari jamur tiram yang mempunyai kandungan polysaccharida tinggi, biasa digunakan untuk cream, salep, suspensi, dan bedak untuk perawatan wajah di dunia oleh peneliti dan perusahaan kosmetik untuk formulasinya (Contoh; Estee Lauder dan Clinique). Konsentrasi 0,5-2,00 persen. Perawatan wajah ini berguna untuk mengikat air, melembabkan kulit dan anti-inflamasi. Percobaan pada 121 pasien berjerawat kronis, diberikan setiap hari selama 21 hari, hasilnya 73,5 persen kondisinya membaik, 18,2 persen sembuh total (Kuniak et al, 1995. Faculty of Pharmacy and STV, Batislava, Slovak Republic in Beta Glucan Health Center, www.glucan.com/therapy 2002).

Sumber: Kompas, Jum'at 30 Agutus 2002

2009/04/03

Hutan mangrove

Hutan mangrove merupakan salah satu benuk ekosistem hutan yang unik dan khas, terdapat di daerah pasang surut di wilayah pesisir, pantai, dan atau pulau-pulau kecil, dan merupakan potensi sumber daya alam yang sangat potensial. Hutan mangrove memiliki nilai ekonomis dan ekologis yang tinggi, tetapi sangat rentan terhadap kerusakan apabila kurang bijaksana dalam mempertahankan, melestarikan dan pengelolaannya.
Hutan mangrove sangat menunjang perekonomian masyarakat pantai, karena merupakan sumber mata pencarian masyarakat yang berprofesi sebagai nelayan. Secara ekologis hutan mangrove di samping sebagai habitat biota laut, juga merupakan tempat pemijahan bagi ikan yang hidup di laut bebas. Keragaman jenis mangrove dan keunikannya juga memiliki potensi sebagai wahana hutan wisata dan atau penyangga perlindungan wilayah pesisir dan pantai, dari berbagai ancaman sedimentasi, abarasi, pencegahan intursi air laut , serta sebagai sumber pakan habitat biota laut.
Kondisi hutan mangrove pada umumnya memiliki tekanan berat, sebagai akibat dari tekanan krisis ekonomi yang berkepanjangan. Selain dirambah dan atau dialihfungsikan, kawasan mangrove di beberapa daerah, termasuk DKI Jakarta untuk kepentingan tambak, kini marak terjadi. Akibat yang ditimbulkan terganggunya peranan fungsi kawasan mangrove sbagai habitat biota laut, perlindungan wilayah pesisir, dn terputusnya mata rantai makanan bagi bioata kehidupan seperti burung, reptil, dan berbagai kehidupan lainnya.
Tekanan terhadap hutan mangrove di wilayah DKI Jakarta, sebagai akibat tumbuh berkembangnya pusat-pusat kegiatan dan aktivitas manusia; juga disebabkan oleh beberapa aspek kegiatan antara lain; (a) pengembangan permukiman, (b) pembangunan fasilitas rekreasi, (c) pemanfatan lahan pasang surut untuk kepentingan budidaya pertambakan.
Selain terciptanya perubahan dan kerusakan lingkungan, di bagian wilayah hulu juga ikut andil dalam memperburuk kondisi kawasan pantai. Berbagai bentuk masukan bahan padatan sedimen (erosi), bahan cemaran baik yang bersumber dari industri maupun rumah tangga, merupakan salah satu faktor penyebab penyebab pendangkalan pantai dan keruskan ekosistem mangrove.
Dari beberapa hasil penelitian dilaporkan bahwa kondisi kawasan Pantai dan Kepulauan Seribu, kini dalam keadaan terganggu dan diduga tidak dapat mendukung keseimbangan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat di sekitarnya. Dinas Kehutanan DKI Jakarta (1998), melaporkan bahwa komunitas mangrove yang berfungsi sebagai penyangga sempadan pantai cenderung semakin terganggu peranan fungsinya. Bapealda (2001), melaporkan hasil pemantauan kualitas perairan teluk Jakarta dinilai semakin memburuk dibanding dengan tahun-tahun sebelumnya. Yayasan Mangrove (1999), juga melaporkan hasil evaluasi kawasan-kawasan mangrove di Taman Nasional Kepulauan Seribu, yang memberikan gambaran atas terganggunya kawasan mangrove yang berfungsi sebagai penyangga sempadan pantai pulau-pulau berukuran besar maupun kecil. Demikian halnya dengan laporan hasil pencacahan kondisi sosial ekonomi masyarakat di Kepulauan seribu (Lembaga Ekonomi UI, 2000), menyarikan rendahnya tatanan sosial ekonomi masyarakat ditinjau dari segi pendapatan per kapita, dan tingkat pendidikan masyarakatnya.
Mencermati atas uraian fenomena atas dasar laporan hasil kajian di atas, maka dapat disarikan sebagai aspek permasalahan sebagai berikut :
(1). Kawasan mangrove sebagai jalur penyangga wilayah pantai dan Kepulauan Seribu, peranan fungsi ekosistemnya terganggu: dan memberikan kecenderungan semakin teancamnya sumberdaya alam hayati baik kehidupan flora maupun fauna;
(2). Tatanan sosial masyarakat terdekat dengan kwasan jalur penyangga baik di darat maupun di Kepulauan Seribu, tingkat ekonominya sangat rendah dibanding dengan tingkat sosial di DKI Jakarta pada umumnya;

Atas dasar itulah, perlu pembinaan dalam bentuk “ Restorasi Ekologi Hutan Mangrove di Provinsi DKI Jakarta”, diikuti dengan peningkatan tatanan sosial ekonomi masyarakat di sekitarnya. Hal ini dimaksudkan agara pengendalian atas kecenderungan semakin terdegradasinya kawasan mangrove sebagai jalur penyangga wilayah pantai, termasuk upaya-upaya peningkatan taraf hidup masyarakat sekitar dapat dilakukan secara terprogram, terpadu berkelanjutan.

2009/03/23

SISTEM SILVIKULTUR INTENSIF MENDORONG OPTIMALISASI PRODUKSI HUTAN ALAM

27-11-2006
Untuk medorong tercapainya kondisi hutan yang mampu berfungsi secara optimal, produktif, berdaya saing, dan yang dikelola secara efektif dan efisien, sehingga terwujud kelestarian hutan yang dinamis, Dephut telah menunjuk beberapa pemegang Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu pada Hutan Alam (IUPHHK-HA/HPH).
Sebagai model pembangunan sistem silvikultur intensif yang disesuaikan dengan karakteristik setiap lokasi.

Pengelolaan dengan sistem silvikultur intensif pada IUPHHK-HA/HPH baik dengan sistem tebang pilih tanam Indonesia Intensif (TPTII) dan atau dengan sistem tebang pilih tanam jalur intensif (TPTJI) dilakukan pada areal hutan produksi alam yang masih ada virgin forest, dan areal bekas tebangannya masih baik.

Agar pelaksanaan pembangunan sistem silvikultur intensif di beberapa IUPHHKA tersebut berhasil, difasilitasi oleh sebuah tim pakar di bidang sistem silvikultur. Tahun 2004 Departemen Kehutanan telah menunjuk 17 (tujuh belas) IUPHHKA untuk melaksanakan model pembangunan sistem silvikultur intensif. Di Kalimantan Tengah, IUPHHK-HA/HPH yang melaksanakan model sistem silvikultur intensif antara lain PT. Sari Bumi Kusuma, PT. Erna Djuliawati, dan PT. Sarpatim dari kelompok usaha kayu lapis Indonesia.

Pakar Tim Pelaksana Fasilitasi Pembangunan Sistem Silvikultur Intensif antara lain Prof. DR. Ir. Sukotjo (Silvikultur Intensif, UGM); Prof. DR. Ir. Maman Sutisna (TPTI Bina Pilih, UNMUL); Prof. DR. Ir. M. Na’iem, M.Agr (Pemuliaan Pohon, UGM); DR. Ir. Chairil Anwar Siregar (Manipulasi Lingkungan, Kimia Tanah Puslitbang HKA, Bogor); DR. Ir. Illias (Pemungutan Hasil Hutan/Penjarangan, Riil, IPB); dan lain-lainnya.

Menteri Kehutanan akan melihat perkembangan pelaksanaan model silvikultur intensif Tebang Pilih Tanam Indonesia Intensif (TPTII) di PT. Sarpatim tanggal 27-28 Nopember 2006.

Selain melihat perkembangan sistem silvikultur TPTII di PT. Sarpatim , Menteri juga akan meminta laporan persiapan pakar dalam pengembangan sistem silvikultur intensif pada IUPHHKHA lainnya yang berminat.

Dalam kunjungan lapangan ke PT. Sarpatim Menteri Kehutanan antara lain didampingi oleh Dirjen Bina Produksi Kehutanan bersama tim pakar, Prof. DR. Ir. Sukotjo, Prof. DR. Ir. Maman Sutisna, Prof. DR. Ir. M. Na’iem, M.Agr, DR. Ir. Chairil Anwar Siregar, DR. Ir. Illias.

Sistem silvikultur intensif dengan tebang pilih tanam Indonesia intensif (TPTII) dapat meningkatkan hasil panen kayu dari IUPHHK-HA (HPH). Penerapan sistem tersebut dapat digunakan untuk mengatasi kekurangan pasokan bahan baku, yang saat ini menimpa industri pengolahan kayu berdiameter besar di Indonesia.

Saat ini kesenjangan permintaan bahan baku untuk industri plywood dan sawn timber + 25 juta m3/tahun. Hal ini karena dari 289 unit IUPHHK-HA/HPH, hanya 154 unit yang aktif menyusun rencana karya tahunan (RKT) dengan potensi 8,2 juta m3 pada tahun 2006. Dengan sistem silvikultur TPTII dan atau TPTJI ini diharapkan agar pengelolaan IUPHHK-HA/HPH tersebut dapat menghasilkan kayu jenis meranti dan atau kayu mewah lainnya dalam umur tebang yang lebih pendek antara umur 20 –25 tahun dengan volume kayu yang lebih besar antara 200 – 300 m3/hektar. Selama ini umur kayu jenis meranti dari hutan alam baru dapat ditebang pada umur 30 – 40 tahun dengan volume 40 – 60 m3/hektar.

2009/03/19

Indonesia Memenuhi Syarat untuk Penerapan Undang-Undang Konservasi Hutan Tropis

Untuk memenuhi permintaan dari Pemerintah Indonesia, Pemerintah A.S. dengan gembira mengumumkan bahwa Indonesia memenuhi syarat untuk turut serta dalam program pengalihan utang untuk konservasi alam (debt-for-nature) guna mendanai upaya konservasi hutan tropis. Di bawah Undang-Undang Konservasi Hutan Tropis (Tropical Forest Conservation Act /TFCA), sejumlah utang Indonesia yang memenuhi syarat dapat dikurangi dan dialihkan pada upaya konservasi hutan tropis.

“Ini merupakan berita baik,” kata Menteri Kehutanan M.S. Kaban, SE, MSi, dalam pertemuan dengan sejumlah perwakilan dari Kedubes A.S. hari ini.

Departemen Keuangan A.S. akan memberikan alokasi sementara senilai 19,6 juta dolar AS untuk pengelolaan utang yang memenuhi syarat tersebut. Pembahasan awal untuk mencapai sebuah kesepakatan diharapkan akan dimulai pada minggu-minggu mendatang. Jika telah selesai, Indonesia akan menjadi salah satu peserta terbesar di bawah program TFCA ini.

Hingga kini, 11 negara di Afrika, Asia, dan Amerika Latin telah ikut ambil bagian dalam perjanjian debt-for-nature di bawah TFCA. Perjanjian ini akan menghasilkan lebih dari 135 juta dolar AS untuk melestarikan hutan tropis penting di negara-negara tersebut selama 10 sampai 25 tahun. Di masa yang akan datang, program ini akan diperluas mencakup pelestarian terumbu karang yang sering disebut sebagai “hutan pantai.”

Hutan Indonesia dikenal sebagai salah satu hutan yang paling penting dan paling beragam secara hayati di dunia. Pemerintah A.S. menyambut baik keikutsertaan Indonesia dalam program yang penting ini.

2009/03/14

Deskripsi Jenis Rotan


Rotan adalah sekelompok palma dari puak (tribus) Calameae yang memiliki habitus memanjat, terutama Calamus, Daemonorops, dan Oncocalamus. Puak Calameae sendiri terdiri dari sekitar enam ratus anggota, dengan daerah persebaran di bagian tropis Afrika, Asia dan Australasia. Ke dalam puak ini termasuk pula marga Salacca ( misalnya salak), Metroxylon (misalnya rumbia/sagu), serta Pigafetta yang tidak memanjat, dan secara tradisional tidak digolongkan sebagai rotan.

Batang rotan biasanya langsing dengan diameter 2-5cm, beruas-ruas panjang, tidak berongga, dan banyak yang dilindungi oleh duri-duri panjang, keras, dan tajam. Duri ini berfungsi sebagai alat pertahanan diri dari herbivora, sekaligus membantu pemanjatan, karena rotan tidak dilengkapi dengan sulur. Suatu batang rotan dapat mencapai panjang ratusan meter. Batang rotan mengeluarkan air jika ditebas dan dapat digunakan sebagai cara bertahan hidup di alam bebas. Badak jawa diketahui juga menjadikan rotan sebagai salah satu menunya.

Sebagian besar rotan berasal dari hutan di Malesia, seperti Sumatra, Jawa, Borneo, Sulawesi, dan Nusa Tenggara. Indonesia memasok 70% kebutuhan rotan dunia. Sisa pasar diisi dari Malaysia, Filipina, Sri Lanka, dan Bangladesh.

Rotan cepat tumbuh dan relatif mudah dipanen serta ditransprotasi. Ini dianggap membantu menjaga kelestarian hutan, kaerna orang lebih suka memanen rotan daripada kayu.
Adapun macam - macam rotan dapat dibagi sebagai berikut :

Rotan Batang (Daemonorops robustus Warb) :

1.Hidup berumpun, tumbuh menyebar pada daerah berbukit sampai kedaerah bergunung (300 – 1000 m dpl). Umumnya tumbuh menjalar diatas permukaan tanah kemudian memanjat dan melilit pada batang pohon sekitarnya.

2.Pada pangkal batang terdapat bongkol, mula-mula tegak keatas kurang lebih 2 meter kemudian melengkung kembali ketanah, kadang terdapat akar pada bongkol tersebut. Pangkal batang sepanjang 1,5 meter diameter besar dan ruas buku pendek tidak teratur, setelah normal kembali dengan ukuran tertentu.

3.Diameter batang kurang lebih 2 – 8 cm, panjang ruas 15 – 30 cm warna batang hijau tua mengkilap, bentuk silindris. Ruas nyata dan pada batang terdapat benjolan pelepah.

4.Pelepah daun berduri seperti duri salak pada bagian atas melengkung kedalam, panjang duri antara 2 – 4 cm, tangkai daun pada bagian pelepah berduri rapat, makin keatas makin jarang, bentuk dari pipih bersusun dan tidak beraturan

5.Pada tangkai daun duduk daun berpasangan kiri kanan, jaraknya 2 – 5 cm untuk rotan dewasa. Bentuk daun lonjong dengan ujung runcing. Warna daun hijau tua permukaan licin sedang bagian bawah berwarna hijau buram. Pada bagian bawah tulang daun berduri halus, pinggir daun berduri

6.Pada ujung tangkai daun terdapat sulur panjat, dengan pengait sepanjang 2 – 5 cm, berduri kokoh, bercangap, bertumpu dan seperti cakar dan duri berwarna hitam. Pada rotan dewasa, batang terbungkus pelepah yang pada akhirnya mengelupas sendiri, dan pada ujung batang terdapat tajuk ± 5 – 10 meter. Ciri khas pada batangnya terdapat kandungan air banyak. Jenis rotan ini bernilai ekonomis tinggi. Penggunaanya untuk mebelair dan merupakan komoditi eksport.

Rotan Lambang (Calamus sp) :

1.Hidup berumpun, tumbuh dipinggir sungai/dataran rendah dan juga ditemui di pegunungan.

2.Ruas batang nyata, warna batang hijau muda kekuning-kuningan, panjang ruas 25 – 40 cm diameter batang 1-2 cm merata sampai ujung, buku pada ruas melingkar rata dan berwarna hutam dimana ruas pada bagian bawah buku besar dan ruas pada bagian atas mengecil dan merata sampai keujung batang.

3.Permukaan batang licin dan mengkilap.

4.pada rotan yang tiap panen batangnya/bekas pelepah sepanjang ± 16 - 60 meter pada ujung batang kurang lebih 4 meter terdapat daun.

5.Pada ujung batang terdapat pelepah daun berbentuk menonjol berbuku, pelepah daun berduri pada pinggir kiri dan kanan kira-kira 20 - 30 cm dari pelepah duri menghadap kebawah miring 45o, ujung pelepah terdapat sulur panjat dengan panjang kurang lebih 2 - 3 meter berfungsi sebagai alat panjat dengan duri berpasangan 4 - 5 berjarak 3 cm, naik keujung semakin rapat.

6.Bentuk daun memanjang dengan panjang daun kurang lebih 20 - 50 cm, lebar daun 3 - 6 cm. Warna daun hijau, pada bagian bawah daun terdapat 4 tulang daun yang memiliki duri halus berjarak 2 - 3 cm.

7.Ujung daun meruncing berbulu halus, makin ke ujung buluh makin rapat, pada sepanjang tepi daun berduri halus.

8.Jenis rotan ini tidak banyak digunakan karena kwalitasnya jelek dan mengandung kadar air yang tinggi dan cepat kusut.

9.Permudaannya daun melonjong,pada pangkal pelepah duri panjang halus seperti jarum, jarang dan berakar serabut.

10.Nama daerahnya, buku dalam/buku tinggi (Gorontalo).

Jenis Rotan Umbul (Calamus sympisipus)

1.Hidup soliter, tempat tumbuh menyebar dari daerah dataran rendah (pinggiran sungai) sampai pada daerah dataran tinggi dan berbukit.

2.Batang berwarna kuning cemerlang kehijau-hijauan selindris, beralur, batang dari pangkal sampai ujung semakin besar, panjang ruas batang antara 25 - 40 cm, diameter batang pada bagian ujung 2 - 4 cm.

3.Ruas buku melingkar lurus berwarna seperti warna batang dan nampak jelas. Panjang batang kurang lebih 15 - 60 meter, batang terbungkus pelepah daun dan terdapat pasangan duri yang menghadap kebawah melingkar menyerupai spiral, panjang duri 3 - 5 mm, berwarna kuning.

4.Pada ujung pelepah terdapat sulur panjat satu buah, kemudian pada bagian tengah berpasangan dua dan pada bagian ujung berpasangan tiga, dimana jarak antara pasang an duri yang dengan pasangan duri lainnya 1 - 2,5 cm.

5.Pelepah yang sudah tua mudah terlepas dan rapuh, pada pangkal pelepah terdapat pembungkus.

6.Tangkai daun berduri jarang dan terletak pada bagian bawah.

7.Helai daun berpasangan terdiri atas 4 - 5 helai daun, pada kiri dan kanan tangkai daun, pada bagian ujungnya berpasangan masing-masing satu.

8.Bentuk daun menyirip panjang ujungnya berbulu halus, dipinggir helai daun berduri halus menghadap keujung daun, warna daun hijau mengkilap permukaannya licin daun bagian bawah berwarna kecoklat-coklatan dan keputih-putihan, panjang daun 15 - 25 cm, lebar daun 2 - 4 cm. Tulang daun memanjang mengikuti panjang daun.

9.Malai bunga muncul pada bagian pangkal daun dan ujung batang terdapat selendang yang membungkus malai, kemudian bunga mekar panjang tandan bunga 50 - 75 cm, tangkai bunga terletak helai bunga kutang lebih 20 helai bunga.

10.Buah bersisik, berwarna putih susu dan ujung sisik berbentuk bulat dan masuk kedalam saling menutup, warna pinggir sisik coklat tua, tiap tangkai buah berkelompok.

11.Ciri khas batang mudah lentur dan tidak rusak serta kulit batang tidak pecah bila dibengkokkan.

12.Tumbuh melingkar, menjulur dan kadang-kadang kembali ketanah.

13.Pada anakan, tiap helai daun terbelah dua menyerupai gunting, berwarna hijau terang sedangkan bagian bawah daun berwarna coklat berspora.

14.Jenis ini bernilai ekonomis dan laku di pasaran pada umumnya digunakan untuk mebelair.

Jenis Rotan Tohiti (Calamus inops Becc) :

1.Hidup soliter, tumbuh menyebar secara merata pada ketinggian 300 - 1200 m, batang dari pangkal sampai keujung semakin besar, warna batang hijau tua, licin, panjang batang 15 - 120 m, tumbuh vertikal ke atas kemudian melilit pada pohon disekitarnya. Diameter batang pada pangkal 0,8 - 2 cm pada ujung antara 2 - 4 cm dan panjang ruas antara 20 - 35 cm sama besar sampai keujung batang, buku pada ruas melingkar miring, berwarna hitam dan berlekuk.

2.Pelepah daun membungkus batang pada permukaan pelepah dipenuhi oleh duri yang rapat dan tidak beraturan. Semakin keujung tangkai daun durinya semakin kecil.

3.Ujung tangkai daun membentuk cambuk dan terdapat duri pengait, tiap pengait terdapat 5 duri dan masing-masing duri berjarak 1 - 2 cm.

4.Daun menyirip berselang seling, ujung daun lancip berbulu halus, warna permukaan daun hijau mengkilap, sedang pada bagian bawah daun berwarna hijau buram. Tulang daun nyata, berduri halus dengan panjang antara 5 - 7 cm, ujung duri berwarna coklat muda.

5.Ciri khas, bila batang dilenturkan kulit batang pecah dan berbekas.

6.Jenis rotan ini bernilai ekonomis tinggi dan merupakan komoditi ekspor, juga untuk bahan mebelair.

Jenis rotan Susu (Calamus sp)

1.Hidup soliter tumbuh menyebar merata ke ketinggian ± 250 - 500 m dpl, terutama banyak dijumpai dipinggiran sungai dan di dataran rendah yang lembab.

2.Batang berwarna kuning kehijauan, dengan diameter batang mulai dari pangkal sampai ujung pelepah.

3.Diameter batang mulai dari panjang ± 1,5 m untuk rotan dewasa dapat mencapai 28 - 40 mm.

4.Pelepah daun pembungkus batang diselimuti duri rapat beraturan dan merata antara pelepah-pelepah berikutnya asal dari mendatar panjang ± 3 - 6 cm, warna hitam mengkilap.

5.Ruas batang panjangnya ± 15 - 40 cm dengan bentuk buku ruas agak tebal menonjol melingkar miring.

6.Ciri khas batang bila dipotong akan keluar air berupa getah mencair putih seperti susu.

7.Pada tangkai daun duduk berselang-seling beraturan dengan panjang berukuran ± 15 - 75 cm jarak antara daun ± 3 - 4 cm. Permukaan daun berwarna hijau tua sedang bagian bawah daun terdapat duri menyorok kebawah dan setiap pinggir tepi daun ditumbuhi duri sebagai pengait dengan jarak ± 2 - 3 cm.

8.Pada ujung tangkai tumbuh sulur sebagai pengait pohon yang disebelahnya, panjang sulur panjat dapat mencapai 3 - 6 meter dan setiap duri pengait berjumlah 5 bergandengan dibagian tenga duri besar sebagai bidak pengait dan arah miring kebawah. Jarak antarnya sampai ujung 3 - 5 cm.

9.Jenis rotan ini kurang bernilai ekonomis.

Jenis Rotan Merah/Tai Ayam (Calamus panajuga Becc) :

1.Hidup berumpun, menyebar dari ketinggian ± 200 m dpl s/d 500 m dpl.

2.Batang berwarna coklat kemerah merahan, batang terbungkus pelepah, panjang ruas 20 – 30 cm. Diameter batang 4 – 8 mm, batang merah dari pangkal sampai ujung rata, sedangkan pada panjang 15 – 20 m bercabang membentuk batang baru. Pada setiap rumpun terdapat batang rotan yang siap panen antara 15 – 20 batang, dengan panjang batang berkisar antara 15 – 45 m.

3.Daun berwarnaa hijau tua, berbentuk melebar ditengah-tengah dan dasar daun lurus, tepi daun bergerigi dan meruncing pada ujung daun.
Panjang daun kurang lebih 8 – 14 cm, lebar daun dibagian tengah kurang lebih 4 – 6 cm. Tulang daun menyatu pada pangkal menyebar secara radial, warna bagian bawah daun agak kecoklatan dan berspora, duduk daun berselang-seling dan setiap pelepah daun terdapat kurang lebih 10 – 15 helai

4.Pada bagian tangkai daun berduri berpasangan 1 dan 1 sebanyak 2 – 3 pasang, kemudian bentuk kait panjang 0,3 cm pangkal melebar dan ujung daun berwarna hitam.

5.Pada ujung pelepah daun sulur panjat (flagellum) dengan pasangan duri yang bergantian bergandeng 3, 4 dan 2 secara selang seling dan berbentuk paruh burung kakak tua. Panjang sorus sekitar 2 – 5 meter, pelepah daun membungkus sepanjang ruas batang.

6.Pada pucuk terbungkus oleh selubung yang membuka pada saat muncul daun baru

7.Bila batang dikerat/dipotong akan tercium bu tai ayam atau bila batangnya digosok dengan tangan.

8.Setelah pelepah terlepas buku pada ruas melingkar miring agak menunjol.

9.Kegunaan jenis rotan ini oleh masyarakat nelayan digunakan sebagai perangkap ikan (rompong) dan juga digunakan sebagai bahan kerajinan anyaman.

10.Anakan jenis rotan ini mirip dengan anakan pohon aren dan tumbuh berumpun

Jenis Rotan Susu Merah (Calamus sp) :

1.Hidup soliter tumbuh menyebar merata ke ketinggian ± 250 - 500 m dpl, terutama banyak dijumpai dipinggiran sungai dan di dataran rendah yang lembab.

2.Batang berwarna kuning kehijauan, dengan diameter batang mulai dari pangkal sampai ujung pelepah.

3.Pelepah daun pembungkus batang diselimuti duri rapat beraturan dan merata antara pelepah-pelepah berikutnya asal dari mendatar panjang ± 3 - 6 cm, warna hitam mengkilap.

4.Pada tangkai daun duduk berselang-seling beraturan dengan panjang berukuran ± 15 - 75 cm jarak antara daun ± 3 - 4 cm. Permukaan daun berwarna hijau tua sedang bagian bawah daun terdapat duri menyorok kebawah dan setiap pinggir tepi daun ditumbuhi duri sebagai pengait dengan jarak ± 2 - 3 cm.

5.Jenis rotan ini kurang bernilai ekonomis.

2009/03/10

A Lesson Love


Berikut sebuah kisah cinta dari negeri Sakura : A Lesson Love. Wah, ini topiknya tentang Cinta. Kekuatan Cinta “The Power of Love” bisa merupakan sumber motivasi yang kuat namun bisa juga merupakan pembuat turun motivasi, he.. tergantung menggunakannya.. Yang pasti Kekuatan Cinta dahsyat sekali, cinta pada orang tua, cinta pada keluarga, cinta pada pasangan.. Ini contoh dari Negeri Sakura,,,

Toshinobu Kubota , yang biasa dipanggil Shinji mengucapkan selamat tinggal kepada keluarganya di negerinya yang lama untuk mencari hidup yang lebih baik di Amerika. Ayahnya memberinya uang simpanan keluarga yang disembunyikan di dalam kantong kulit.
“Di sini keadaan sulit ,” katanya sambil memeluk putranya dan mengucapkan selamat tinggal. “Kau adalah harapan kami.”
Shinji naik ke kapal lintas Atlantik yang menawarkan transport gratis bagi pemuda-pemuda yang mau bekerja sebagai penyekop batubara sebagai imbalan ongkos pelayaran selama sebulan. Kalau Shinji menemukan emas di Pegunungan Colorado, keluarganya akan menyusul.
Berbulan-bulan Shinji mengolah tanahnya tanpa kenal lelah. Urat emas yang tidak besar memberinya penghasilan yang pas-pasan namun teratur.
Setiap hari ketika pulang ke pondoknya yang terdiri atas dua kamar, Shinji merindu kan dan sangat ingin disambut oleh wanita yang dicintainya.
Satu-satunya yang disesalinya ketika menerima tawaran untuk mengadu nasib ke Amerika adalah terpaksa meninggalkan Asaka Matsutoya sebelum secara resmi punya kesempatan mendekati gadis itu. Sepanjang ingatannya, keluarga mereka sudah lama berteman dan selama itu pula diam-diam dia berharap bisa memperistri Asaka.
Rambut Asaka yang ikal panjang dan senyumnya yang menawan membuatnya menjadi putri Keluarga Yoshinori Matsutoya yang paling cantik..
Shinji baru sempat duduk di sampingnya dalam acara perayaan pesta bunga dan mengarang alasan-alasan konyol untuk singgah di rumah gadis itu agar bisa bertemu dengannya. Setiap malam sebelum tidur di kabinnya , Shinji ingin sekali membelai rambut Asaka yang pirang kemerahan dan memeluk gadis itu.. Akhirnya, dia menyurati ayahnya , meminta bantuannya untuk mewujudkan impiannya.
Kira-kira setahun kemudian, sebuah telegram datang mengabarkan rencana untuk membuat hidup Shinji menjadi lengkap. Pak Yoshinori Matsutoya akan mengirimkan putrinya kepada Shinji di Amerika. Putrinya itu suka bekerja keras dan punya intuisi bisnis. Dia akan bekerja sama dengan Shinji selama setahun dan membantunya mengembangkan bisnis penambangan emas.
Diharapkan, setelah setahun itu keluarganya akan mampu datang ke Amerika untuk menghadiri pernikahan mereka.
Hati Shinji sangat bahagia. Dia menghabiskan satu bulan berikutnya untuk mengubah pondoknya menjadi tempat tinggal yang nyaman. Dia membeli ranjang sederhana untuk tempat tidurnya di ruang duduk dan menata bekas tempat tidurnya agar pantas untuk seorang wanita. Gorden dari bekas karung goni yang menutupi kotornya jendela diganti dengan kain bermotif bunga dari bekas karung terigu. Di meja samping tempat tidur dia meletakkan wadah kaleng berisi bunga-bunga kering yang dipetiknya di padang rumput.
Akhirnya , tibalah hari yang sudah dinanti-nantikannya sepanjang hidup.
Dengan tangan membawa seikat bunga daisy segar yang baru dipetik , dia pergi ke stasiun kereta api. Asap mengepul dan roda-roda berderit ketika kereta api mendekat lalu berhenti. Shinji melihat setiap jendela , mencari senyum dan rambut ikal Asaka. Jantungnya berdebar kencang penuh harap, kemudian tersentak karena kecewa.
Bukan Asaka , tetapi Yumi Matsutoya kakaknya, yang turun dari kereta api. Gadis itu berdiri malu-malu di depannya, matanya menunduk. Shinji hanya bisa memandang terpana. Kemudian, dengan tangan gemetar diulurkannya buket bunga itu kepada Yumi. “Selamat datang,” katanya lirih, matanya menatap nanar. Senyum tipis meng hias wajah Yumi yang tidak cantik.
“Aku senang ketika Ayah mengatakan kau ingin aku datang ke sini,” kata Yumi, sambil sekilas memandang mata Shinji sebelum cepat-cepat menunduk lagi.
“Aku akan mengurus bawaanmu ,” kata Shinji dengan senyum terpaksa.
Bersama-sama mereka berjalan ke kereta kuda. Pak Matsutoya dan ayahnya benar. Yumi memang punya intuisi bisnis yang hebat. Sementara Shinji bekerja di tambang, dia bekerja di kantor. Di meja sederhana di sudut ruang duduk, dengan cermat Yumi mencatat semua kegiatan di tambang. Dalam waktu 6 bulan, asset mereka telah berlipat dua. Masakannya yang lezat dan senyumnya yang tenang menghiasi pondok itu dengan sentuhan ajaib seorang wanita.
Tetapi bukan wanita ini yang kuinginkan , keluh Shinji dalam hati, setiap malam sebelum tidur kecapekan di ruang duduk. Mengapa mereka mengirim Yumi ? Akankah dia bisa bertemu lagi dengan Asaka ? Apakah impian lamanya untuk memperistri Asaka harus dilupakannya ?
Setahun lamanya Yumi dan Shinji bekerja, bermain, dan tertawa bersama, tetapi tak pernah ada ungkapan cinta. Pernah sekali, Yumi mencium pipi Shinji sebelum masuk kekamarnya. Pria itu hanya tersenyum canggung. Sejak itu, kelihatannya Yumi cukup puas dengan jalan-jalan berdua menjelajahi pegunungan atau dengan mengobrol di beranda setelah makan malam.
Pada suatu sore di musim semi, hujan deras mengguyur punggung bukit, membuat jalan masuk ke tambang mereka longsor. Dengan kesal Shinji mengisi karung-karung pasir dan meletakkannya sedemikan rupa untuk membelokkan arus air. Badannya lelah dan basah kuyup, tetapi tampaknya usahanya sia-sia. Tiba-tiba Yumi muncul di sampingnya, memegangi karung goni yang terbuka. Shinji menyekop dan memasuk kan pasir kedalamnya, kemudian dengan tenaga sekuat lelaki, Yumi melemparkan karung itu ke tumpukan lalu membuka karung lainnya. Berjam-jam mereka bekerja dengan kaki terbenam lumpur setinggi lutut, sampai hujan reda. Dengan berpegangan tangan mereka berjalan pulang ke pondok.
Sambil menikmati sup panas, Shinji mendesah , “Aku takkan dapat menyelamatkan tambang itu tanpa dirimu. Terima kasih, Yumi..”
“Sama-sama,” gadis itu menjawab sambil tersenyum tenang seperti biasa, lalu tanpa berkata-kata dia masuk ke kamarnya.
Beberapa hari kemudian , sebuah telegram datang mengabarkan bahwa Keluarga Matsutoya dan Keluarga Kubota akan tiba minggu berikutnya. Meskipun berusaha keras menutup-nutupinya , jantung Shinji kembali berdebar-debar seperti dulu karena harapan akan bertemu lagi dengan Asaka. Dia dan Yumi pergi ke stasiun kereta api. Mereka melihat keluarga mereka turun dari kereta api di ujung peron.
Ketika Asaka muncul , Yumi menoleh kepada Shinji. “Sambutlah dia,” katanya.
Dengan kaget, Shinji berkata tergagap, “Apa maksudmu?”
“Shinji , sudah lama aku tahu bahwa aku bukan putri Matsutoya yang kau inginkan. Aku memperhatikan bagaimana kau bercanda dengan Asaka dalam acara Perayaan pesta bunga lalu.” Dia mengangguk ke arah adiknya yang sedang menuruni tangga kereta. “Aku tahu bahwa dia, bukan aku , yang kauinginkan menjadi istrimu.”
“Tapi…”
Yumi meletakkan jarinya pada bibir Shinji. “Ssstt,” bisiknya. “Aku mencintaimu, Shinji. Aku selalu mencintaimu. Karena itu , yang kuinginkan hanya melihatmu bahagia. Sambutlah adikku.”
Shinji mengambil tangan Yumi dari wajahnya dan menggenggamnya. Ketika Yumi menengadah, untuk pertama kalinya Shinji melihat betapa cantiknya gadis itu. Dia ingat ketika mereka berjalan-jalan di padang rumput, ingat malam-malam tenang yang mereka nikmati di depan perapian, ingat ketika Yumi membantunya mengisi karung-karung pasir. Ketika itulah dia menyadari apa yang sebenarnya selama berbulan-bulan telah tidak diketahuinya.
“Tidak, Yumi. Engkaulah yang kuinginkan.” Shinji merengkuh gadis itu ke dalam pelukannya dan mengecupnya dengan cinta yang tiba-tiba membuncah didalam dadanya.
Keluarga mereka berkerumun mengelilingi mereka dan berseru-seru, “Kami datang untuk menghadiri pernikahan kalian!”