2009/07/22

Taman Nasional Siberut


ulau Siberut terletak di lepas pantai Sumatera Barat yang dipisahkan oleh Selat Mentawai dan berjarak kurang lebih 155 km dari kota Padang. Taman Nasional Siberut yang terletak di pulau tersebut, seluas 60% kawasan ditutupi oleh hutan primer Dipterocarpaceae, hutan primer campuran, rawa, hutan pantai, dan hutan mangrove.

Hutan di taman nasional ini relatif masih alami dengan banyaknya pohon-pohon besar dengan tinggi rata-rata 60 meter.

Taman Nasional Siberut memiliki 4 jenis satwa primata yang tidak ditemukan pada daerah-daerah lainnya di dunia (endemik) yaitu bokkoi (Macaca pagensis), lutung mentawai/joja (Presbytis potenziani siberu), bilou (Hylobates klossii), dan simakobu (Nasalis concolor siberu). Selain itu, terdapat 4 jenis bajing yang endemik, 17 jenis satwa mamalia dan 130 jenis burung (4 jenis endemik).

Pulau Siberut termasuk Taman Nasional Siberut adalah salah satu Cagar Biosfir yang ditetapkan UNESCO dalam Program Man and the Biosphere (MAB).

Perjalanan ke dalam kawasan taman nasional belum banyak dilakukan oleh pengunjung dan selama ini obyek utama bagi pengunjung ke Pulau Siberut hanya untuk melihat budaya masyarakat Mentawai yang berada di dalam dan sekitar taman nasional. Dalam banyak hal, masyarakat Mentawai merupakan suku bangsa di Indonesia yang masih sangat tradisional dan sebagian besar menganut kepercayaan animisme. Kegiatan sosialnya dipusatkan di sekitar UMA, yaitu suatu rumah bersama yang berukuran panjang dan dihuni oleh 30 - 80 orang.







Kunjungan ke Taman Nasional Siberut merupakan kombinasi perjalanan mulai dari berperahu, mendayung, berjalan kaki di jalur berlumpur, menikmati keindahan alam hutan tropika termasuk pengamatan tumbuhan/satwa, mandi di air terjun dan mengamati langsung masyarakat asli. Perjalanan tersebut merupakan petualangan yang tidak terlupakan. Perjalanan ke Pulau Siberut, biasanya diatur oleh biro-biro perjalanan dari Padang maupun Bukit Tinggi termasuk fasilitas pemandu wisata.

Beberapa lokasi/obyek yang menarik untuk dikunjungi:

Madobak, Rokdok, Matotonan, Rorogot, Butui, Teteburuk, Selaoinan dan Mailepet : Menjelajahi hutan, menyelusuri sungai, sumber air panas, air terjun, wisata bahari, pengamatan satwa dan tumbuhan serta wisata budaya (rumah Uma dan tarian religius).
Pantai Sagulubek dan Pantai Masilok. Olahraga berselancar dan menyelam/snorkeling di taman laut/hutan bakau.

Atraksi budaya di luar taman nasional: Festival Gandang Tasa pada bulan Mei, dan Festival Tabuik pada bulan Juni di Padang.

Musim kunjungan terbaik: bulan Januari s/d September setiap tahunnya.

Cara pencapaian lokasi : dari Padang (Muara Padang) ke Muara Siberut/Muara Sikabaluan/Muara Saibi dengan menggunakan kapal laut (3 kali seminggu) pada malam hari, ± 10 jam.

Taman Nasional Gunung Leuser


Taman Nasional Gunung Leuser merupakan perwakilan tipe ekosistem hutan pantai, dan hutan hujan tropika dataran rendah sampai pegunungan.

Hampir seluruh kawasan ditutupi oleh lebatnya hutan Dipterocarpaceae dengan beberapa sungai dan air terjun. Terdapat tumbuhan langka dan khas yaitu daun payung raksasa (Johannesteijsmannia altifrons), bunga raflesia (Rafflesia atjehensis dan R. micropylora) serta Rhizanthes zippelnii yang merupakan bunga terbesar dengan diameter 1,5 meter. Selain itu, terdapat tumbuhan yang unik yaitu ara atau tumbuhan pencekik.

Satwa langka dan dilindungi yang terdapat di taman nasional antara lain mawas/orangutan (Pongo abelii), siamang (Hylobates syndactylus syndactylus), gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus), badak Sumatera (Dicerorhinus sumatrensis sumatrensis), harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae), kambing hutan (Capricornis sumatraensis), rangkong (Buceros bicornis), rusa sambar (Cervus unicolor), dan kucing hutan (Prionailurus bengalensis sumatrana).
Taman Nasional Gunung Leuser merupakan salah satu yang ditetapkan oleh UNESCO sebagai Cagar Biosfir. Berdasarkan kerjasama Indonesia-Malaysia, juga ditetapkan sebagai “Sister Park” dengan Taman Negara National Park di Malaysia.

Beberapa lokasi/obyek yang menarik untuk dikunjungi:

Gurah. Melihat dan menikmati panorama alam, lembah, sumber air panas, danau, air terjun, pengamatan satwa dan tumbuhan seperti bunga raflesia, orangutan, burung, ular dan kupu-kupu.
Bohorok. Tempat kegiatan rehabilitasi orangutan dan wisata alam berupa panorama sungai, bumi perkemahan dan pengamatan burung.
Kluet. Bersampan di sungai dan danau, trekking pada hutan pantai dan wisata goa. Daerah ini merupakan habitat harimau Sumatera.
Sekundur. Berkemah, wisata goa dan pengamatan satwa.
Ketambe dan Suak Belimbing. Penelitian primata dan satwa lain yang dilengkapi rumah peneliti dan perpustakaan.
Gunung Leuser (3.404 m. dpl) dan Gn. Kemiri (3.314 m. dpl). Memanjat dan mendaki gunung.
Arung jeram di Sungai Alas. Kegiatan arung jeram dari Gurah-Muara Situlen-Gelombang selama tiga hari.
Atraksi budaya di luar taman nasional yaitu Festival Danau Toba pada bulan Juni di Danau Toba dan Festival Budaya Melayu pada bulan Juli di Medan.

Musim kunjungan terbaik : bulan Juni s/d Oktober setiap tahunnya.

Cara pencapaian lokasi: Medan-Kutacane berjarak ± 240 km atau 8 jam dengan mobil, Kutacane-Gurah/Ketambe berjarak ± 35 km atau 30 menit dengan mobil, Medan-Bohorok/Bukit Lawang berjarak ± 60 km atau 1 jam dengan mobil, Medan-Sei Betung/Sekundur berjarak ± 150 km atau 2 jam dengan mobil, Medan-Tapaktuan berjarak ± 260 km atau 10 jam dengan mobil.

Taman Nasional Bukit Barisan


Taman Nasional Bukit Barisan Selatan merupakan perwakilan dari rangkaian pegunungan Bukit Barisan yang terdiri dari tipe vegetasi hutan mangrove, hutan pantai, hutan pamah tropika sampai pegunungan di Sumatera.

Jenis tumbuhan di taman nasional tersebut antara lain pidada (Sonneratia sp.), nipah (Nypa fruticans), cemara laut (Casuarina equisetifolia), pandan (Pandanus sp.), cempaka (Michelia champaka), meranti (Shorea sp.), mersawa (Anisoptera curtisii), ramin (Gonystylus bancanus), keruing (Dipterocarpus sp.), damar (Agathis sp.), rotan (Calamus sp.), dan bunga raflesia (Rafflesia arnoldi).

Tumbuhan yang menjadi ciri khas taman nasional ini adalah bunga bangkai jangkung (Amorphophallus decus-silvae), bunga bangkai raksasa (A. titanum) dan anggrek raksasa/tebu (Grammatophylum speciosum). Tinggi bunga bangkai jangkung dapat mencapai lebih dari 2 meter.


Taman Nasional Bukit Barisan Selatan merupakan habitat beruang madu (Helarctos malayanus malayanus), badak Sumatera (Dicerorhinus sumatrensis sumatrensis), harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae), gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus), tapir (Tapirus indicus), ungko (Hylobates agilis), siamang (H. syndactylus syndactylus), simpai (Presbytis melalophos fuscamurina), kancil (Tragulus javanicus kanchil), dan penyu sisik (Eretmochelys imbricata).

Danau Menjukut di taman nasional ini berbatasan langsung dengan laut lepas Samudera Hindia, yang menyerupai kolam renang yang sangat luas dan berada tidak jauh dari garis pantai.




Beberapa lokasi/obyek yang menarik untuk dikunjungi:
Tampang, Blubuk, Danau Menjukut, Way Sleman, Blimbing. Menjelajahi hutan, wisata bahari, berenang, bersampan, pengamatan tumbuhan (raflesia, bunga bangkai), berkemah, dan menyelusuri sungai.
Sukaraja Atas. Menjelajahi hutan, berkemah, pengamatan satwa/tumbuhan (bunga bangkai jangkung).
Suwoh. Bersampan, berenang, sumber air panas, menjelajahi hutan dan berkemah
Kubu Perahu. Menjelajahi hutan, air terjun, pengamatan satwa/tumbuhan dan berkemah.

Atraksi budaya di luar taman nasional:Festival Krakatau pada bulan Juli di Bandar Lampung dan Festival Danau Ranau pada bulan Desember di Oku-Sumatera Selatan.
Musim kunjungan terbaik: bulan Januari s/d Agustus setiap tahunnya.

Cara pencapaian lokasi :Teluk Betung-Tanjung Karang-Kota Agung menggunakan mobil, Kota Agung-Tampang menggunakan kapal motor sekitar enam jam, Kota Agung-Banjarnegoro-Sukaraja Atas/Suwoh menggunakan mobil sekitar empat jam, dan Kota Agung-Kubu Perahu menggunakan mobil sekitar tujuh jam.

Taman Nasional Gunung Halimun


Berawal dari kawasan Cagar Alam Gunung Halimun (CAGH) 40.000 ha. sejak tahun 1935, kawasan ini pertama kali ditetapkan menjadi salah satu taman nasional, sesuai dengan Surat Keputusan Menteri Kehutanan No. 282/Kpts-II/1992 tanggal 28 Pebruari 1992 dengan luas 40.000 ha. di bawah pengelolaan sementara Taman Nasional Gunung Gede Pangrango dengan nama Taman Nasional Gunung Halimun (TNGH). Selanjutnya pada Tanggal 23 Maret 1997 pengelolaan kawasan TNGH resmi dipisah dari TNGP, dikelola langsung oleh Unit Pelaksana Teknis Balai TNGH, Dirjen PHKA, Departeman Kehutanan.

Atas dasar perkembangan kondisi kawasan disekitarnya terutama kawasan hutan lindung Gunung Salak dan Gunung Endut yang terus terdesak akibat berbagai kepentingan masyarakat dan pembangunan, serta adanya desakan dan harapan berbagai pihak untuk melakukan penyelamatan kawasan konservasi Halimun Salak yang lebih luas. Ditetapkanlah SK Menteri Kehutanan No.175/Kpts-II/2003, yang merupakan perubahan fungsi kawasan eks Perum Perhutani atau eks hutan lindung dan hutan produksi terbatas disekitar TNGH menjadi satu kesatuan kawasan konservasi Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS).

Berdasarkan SK tersebut penunjukan luas kawasan TNGHS adalah 113,357 ha dan terletak di Propinsi Jawa Barat dan Banten meliputi Kabupaten Sukabumi, Bogor dan Lebak. Dimana, saat ini TNGHS merupakan salah satu taman nasional yang memiliki ekosistem hutan hujan tropis pegunungan terluas di Jawa.

Dilihat dari bentuk kawasannya, Taman Nasional Gunung Halimun Salak berbentuk seperti bintang atau jemari, sehingga batas yang mengelilingi kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak menjadi lebih panjang. Pengelolaan kawasan seperti ini lebih sulit dibandingkan dengan pengelolaan kawasan yang berbentuk relatif bulat. Apalagi didalamnya terdapat beberapa enclave perkebunan, pemukiman masyarakat tradisional serta beberapa aktivitas pertambangan emas, pembangkit energi listrik panas bumi dan pariwisata massal.

Konon, banyak para petani tradisional maupun pendatang sudah tinggal sebelum kawasan ini ditetapkan sebagai areal konservasi. Sehingga menjadi tantangan bagi pengelola, para pihak dan masyarakat lokal dalam mengembangkan model pengelolaan kawasan TNGHS yang lebih kolaboratif dan berkelanjutan di masa depan.

2009/06/04

Gunung Api Raksasa Ditemukan di Barat Bengkulu


JAKARTA -- Keluarga gunung berapi di Indonesia bertambah satu dengan ditemukannya gunung api raksasa (giant volcano) di bawah laut. Gunung api yang terdeteksi secara tak sengaja itu berada di perairan barat Pulau Sumatra, sekitar 330 kilometer ke arah barat dari Kota Bengkulu di Samudra Hindia.

Direktur Pusat Teknologi Inventarisasi Sumber Daya Alam (PTISDA) Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Yusuf S Djajadihardja, memperkirakan, gunung api ini memiliki ketinggian kurang lebih 4.600 meter pada kedalaman 5.900 meter.

Puncak gunung api ini berada pada kedalaman 1.280 meter dari permukaan air laut. ''Gunung api ini sangat besar dan tinggi, dengan lebar sekitar 50 kilometer,'' kata Yusuf saat jumpa pers di Jakarta, Kamis (28/5).

Tidak mustahil, terang Yusuf, gunung yang berlokasi di Palung Sunda itu merupakan gunung tertinggi yang dimiliki Indonesia. Sebagai perbandingan, pegunungan Jayawijaya di Papua hanya berketinggian sekitar 4.000 meter.

Menurut Yusuf, gunung ini memiliki kaldera, yang menandakan gunung tersebut sebagai gunung api. Kendati, dia belum bisa memastikan tingkat keaktifannya. ''Bagaimanapun, gunung api bawah laut sangat berbahaya jika meletus,'' katanya.

Namun, bagaimana data lebih rinci gunung tersebut, Yusuf mengaku belum bisa berkomentar banyak. ''Kami belum dapat memberi keterangan lebih lanjut, karena perlu kajian lebih jauh.''

Gunung api bawah laut itu terdeteksi tanpa sengaja, ungkap Yusuf, ketika BPPT, LIPI, Departemen ESDM, CGGVeritas, dan IPG (Institut de Physique du Globe) Paris melakukan survei 'Studi Risiko Kegempaan dan Tsunami' di perairan barat Sumatra.

Riset kelautan itu dilakukan dengan menggunakan metode Seismik Refleksi. Survei dilakukan sepanjang Mei 2009 selama 20 hari menggunakan kapal seismik Geowave Champion canggih milik CGGVeritas.

Selain mendeteksi adanya gunung api baru, survei juga berhasil memperoleh gambaran profil struktur geologi dalam (deep geological structures) di daerah perairan barat Sumatra. Salah satunya ditemukan sebuah patahan yang amat luas di cekungan busur muka (fore-arc basin) di daerah perairan Sumatra.

''Para peneliti memprediksi, mungkin saja patahan ini berpotensi tsunami bila terjadi gempa dengan hanya enam skala Richter. Tapi, ini masih perlu penelitian lebih lanjut,'' kata Yusuf.

Namun, dia mengakui, wilayah di perairan Sumatra memang rentan terjadinya tsunami. Bahkan, katanya, terdapat sebuah ramalan ilmiah yang memperkirakan, pada sekitar tahun 2030, di wilayah ini kemungkinan besar bakal terjadi sebuah patahan mega besar.

Luas patahan di bawah laut itu, diprediksi, sebesar kota Padang. Walaupun demikian, lanjutnya, sejatinya tidak ada satu orang ahli pun dapat memastikan, kapan waktu terjadinya mega patahan itu.

''Semua ahli sepakat, dalam jangka panjang, mega patahan yang ditakutkan ini pasti terjadi, suatu hari nanti,'' ungkapnya.

Pertama di dunia
Survei itu merupakan yang pertama di dunia karena menggunakan streamer terpanjang yang pernah dilakukan oleh kapal seismik. Kapal milik CGGVeritas itu memang dilengkapi peralatan multichannel seismik refleksi dengan panjang streamer sercel sentinel solid mencapai 15 kilometer.

''Ini merupakan survei pertama di dunia yang menggunakan streamer terpanjang yang pernah dilakukan kapal survei seismik,'' ungkap Yusuf.

Tujuan dari survei tersebut, jelasnya, adalah untuk mengetahui struktur geologi dalam, meliputi Palung Sunda, Prisma Akresi, Tinggian Busur Luar (Outer Arc High), dan Cekungan Busur Muka (Fore Arc Basin) di perairan Sumatra.

Berkenaan dengan metode survei, Yusuf menjelaskan, kurang lebih 1.700 kilometer multichanel seismik refleksi data dengan penetrasi mencapai kedalaman 50 kilometer (deep seismic). Survei ini dilakukan selama Mei 2009, dengan menggunakan kapal seismik Geowave Champion.

Profesor dari IPG Paris, Satish Singh, menambahkan, tujuan dari survei ini juga sebagai panduan untuk membuat peta risiko kegempaan dan tsunami. Pemilihan wilayah perairan Sumatra, ungkapnya, memiliki alasan lantaran wilayah Mentawai merupakan daerah yang terkunci secara tektonik.
''Wilayah ini, berpotensi besar untuk terjadinya gempa besar yang berujung pada terjadinya tsunami,'' jelasnya.

Sejak kejadian gempa dan tsunami pada akhir 2004 dan gempa-gempa besar susulan lainnya, banyak perubahan struktur di kawasan perairan Sumatra yang menarik minat banyak peneliti asing.

Tim ahli dari Indonesia, Amerika Serikat, dan Prancis kemudian bekerja sama memetakan struktur geologi. Bentuk penelitiannya untuk memahami secara lebih baik, sumber dan mekanisme gempa pemicu tsunami menggunakan citra seismik dalam (deep seismic image).

Indonesia memang sebagai salah satu negara pemilik gunung api terbanyak. Gunung-gunung api di Indonesia adalah gunung-gunung api teraktif di Pacific ring of fire atau cincin api Pasifik.

Daerah ini berbentuk seperti tapal kuda dan mencakup wilayah sepanjang 40 ribu kilometer. Daerah ini juga sering disebut sebagai sabuk gempa Pasifik. Sekitar 90 persen dari gempa bumi yang terjadi dan 81 persen dari gempa bumi terbesar, terjadi di sepanjang cincin api ini.

2009/04/29

Fungsi Ekologis Hutan Lindung Tidak Mungkin Tergantikan

Jakarta, Kompas - Kawasan hutan lindung yang dibuka untuk kegiatan pertambangan tidak mungkin tergantikan. Meskipun secara teknis dapat direklamasi dan direhabilitasi untuk mengembalikannya menjadi hutan lindung, fungsi ekologisnya tidak mungkin dikembalikan seperti kondisi semula.

Demikian terungkap dalam persidangan lanjutan hak uji materi (judicial review) Undang-Undang (UU) No 19/2004 tentang Penetapan Pemerintah Pengganti UU No 1/2004 tentang Perubahan atas UU No 41/1999 tentang Kehutanan menjadi UU, di Mahkamah Konstitusi, Selasa (19/4). UU No 19/2004 itu memberi peluang kepada 13 perusahaan pertambangan melanjutkan kegiatannya di hutan lindung.

Pemohon yang terdiri dari 92 orang dari berbagai lapisan masyarakat mengajukan tiga ahli untuk didengar keterangannya dalam persidangan tersebut, masing-masing Dr Hariadi Kartodihardjo dari Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor (IPB), Ir Eko Teguh Paripurno MT dari Fakultas Teknologi Mineral Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Yogyakarta, dan mantan Menteri Kehutanan Dr Ir Muslimin Nasution APU.

Menurut Hariadi, suatu kawasan hutan lindung yang telah ditambang secara terbuka tidak mungkin dikembalikan kepada fungsi ekologis semua karena telah terjadi perubahan bentang alam. "Hal yang dapat dilakukan adalah menghutankan kembali kawasan tersebut dengan teknologi terbaik yang tersedia," katanya.

Tak tergantikan

Ia juga mengemukakan bahwa suatu kawasan hutan lindung yang dieksploitasi tidak mungkin digantikan oleh kawasan lain. Menurut dia, prinsip tukar guling pada kawasan hutan lindung hanya sekadar mempertahankan agar masih ada hutan yang tersisa. Akan tetapi sama sekali tidak mengembalikan fungsi ekologis yang hilang.

Hariadi mengilustrasikan, jika fungsi hutan di kawasan Puncak dialihkan ke tempat lain, misalnya Cianjur atau Sukabumi, maka tidak akan ada manfaat lagi bagi Jakarta. Sebab, hutan yang dialihkan itu bermanfaat pada daerah aliran sungai di daerah tersebut.

"Jadi, fungsi lingkungan dari sebuah sumber daya alam sebenarnya tidak pernah bisa dialihkan ketika kita hendak melindungi sebuah kawasan dari dampak negatif degradasi fungsi lingkungan itu. Sekalipun penggantinya itu luasannya sampai lima kali lipat, tetap saja fungsinya tidak tergantikan," papar Hariadi, yang mengajar mata kuliah ekonomi sumber daya hutan dan kebijakan pengelolaan sumber daya alam.

Degradasi fungsi hutan akan mengakibatkan berbagai bencana, seperti banjir, longsor, pendangkalan waduk, kekeringan, dan sebagainya. Menurut Eko, bencana yang diakibatkan oleh kerusakan hutan oleh kegiatan pertambangan tidak hanya bencana alam, melainkan bencana sosial akibat hilangnya aset hidup yang seharusnya diperoleh masyarakat setempat.

Untuk generasi berikut

Muslimin berpendapat, masalah hutan tidak dapat dilihat secara rasional sebab hutan penuh dengan nilai. Hutan adalah bagian yang tidak mungkin dipisahkan dari kehidupan manusia karena merupakan sistem penunjang kehidupan.

"Oksigen, air, obat-obatan, dan sebagainya, semua berasal dari hutan," tuturnya.

Menurut Muslimin, hutan merupakan sumber daya yang tidak terbarukan sehingga harus dipikirkan keberlanjutannya untuk generasi berikutnya.

"Masih ada generasi yang akan datang yang harus menikmati hutan, tidak harus dihabisi sekarang. Karena itu, dalam undang-undang kehutanan ketika itu, setiap investor di sektor kehutanan harus menyisihkan sebagian sahamnya kepada penduduk di dalam dan di sekitar hutan," jelasnya.

Ia mengemukakan bahwa undang-undang yang dibuat pada masa tahun 1960-an sangat terkait dengan kondisi negara yang membutuhkan investasi dan kepercayaan dari luar negeri. Pada masa itu Indonesia memang dalam kondisi ekonomi yang sangat parah.

"Undang-Undang No 5/1967 yang mendahului Undang-Undang No 41/1999 waktu itu hanya menekankan bagaimana dengan cepat mendapatkan investasi luar negeri tanpa memperhatikan risiko kerusakan lingkungan," ungkapnya.

Ia menambahkan, pada tahun 1978 baru muncul keresahan, ditandai dengan munculnya slogan forest for the people, akibat kehancuran hutan secara besar-besaran. Berdasarkan kenyataan itu, kata Muslimin, pemerintah akhirnya membekukan sejumlah perizinan di sektor kehutanan untuk menghentikan penghancuran besar-besaran dan pengkaplingan hutan oleh kalangan tertentu. (LAM)

2009/04/16

2100 Bumi Akan Panas Sekali


COLORADO, KOMPAS.com — Ancaman pemanasan global masih dapat dihilangkan dalam jumlah sangat besar jika semua negara memangkas buangan gas rumah kaca, yang memerangkap panas, sampai 70 persen pada abad ini, demikian hasil satu analisis baru.

Meskipun temperatur global akan naik, sebagian aspek perubahan iklim yang paling berpotensi menimbulkan bahaya terhadap, termasuk kehilangan besar es laut Kutub Utara dan tanah beku serta kenaikan mencolok permukaan air laut, dapat dihindari.

Studi tersebut, yang dipimpin oleh beberapa ilmuwan dari National Center for Atmospheric Research (NCAR), direncanakan disiarkan pekan depan di dalam Geophysical Research Letters. Penelitian itu didanai oleh Department of Energy dan National Science Foundation, penaja NCAR.

"Penelitian ini menunjukkan kita tidak lagi dapat menghindari pemanasan mencolok selama abad ini," kata ilmuwan NCAR Warren Washington, pemimpin peneliti tersebut.

Temperatur rata-rata global telah bertambah hangat mendekati 1 derajat celsius (hampir 1,8 derajat fahrenheit) sejak era pra-industri. Kebanyakan pemanasan disebabkan oleh buangan gas rumah kaca yang dihasilkan manusia, terutama karbon dioksida.

Gas yang memerangkap panas itu telah naik dari tingkat era pra-industri sekitar 284 bagian per juta (ppm) di atmosfer jadi lebih dari 380 ppm hari ini.

Sementara penelitian tersebut memperlihatkan bahwa pemanasan tambahan sebesar 1 derajat celsius (1,8 derajat fahrenheit) mungkin menjadi permulaan bagi perubahan iklim yang berbahaya, Uni Eropa telah menyerukan pengurangan dramatis buangan gas karbon dioksida dan gas rumah kaca. Kongres AS juga sedang membahas masalah itu.

Guna mengkaji dampak pengurangan semacam itu terhadap iklim di dunia, Washington dan rekannya melakukan kajian superkomputer global dengan menggunakan Community Climate System Model, yang berpusat di NCAR.

Mereka berasumsi, tingkat karbon dioksida dapat dipertahankan pada angka 450 ppm pada penghujung abad ini. Jumlah tersebut berasal dari US Climate Change Science Program, yang telah menetapkan 450 ppm sebagai sasaran yang bisa dicapai jika dunia secara cepat menyesuaikan tindakan pelestarian dan teknologi hijau baru guna mengurangi buangan gas secara dramatis.

Sebaliknya, buangan gas sekarang berada di jalur menuju tingkat 750 ppm paling lambat pada 2100 jika tak dikendalikan.

Hasil tim tersebut memperlihatkan kalau karbon dioksida ditahan pada tingkat 450 ppm, temperatur global akan naik sebesar 0,6 derajat celsius (sekitar 1 derajat fahrenheit) di atas catatan saat ini sampai akhir abad ini.

Sebaliknya, studi itu memperlihatkan, temperatur akan naik hampir sebesar empat kali jumlah tersebut, jadi 2,2 derajat celsius (4 derajat fahrenheit) di atas catatan saat ini, kalau buangan gas dibiarkan terus berlanjut di jalurnya saat ini.

Menahan tingkat karbon dioksida pada angka 450 ppm akan memiliki dampak lain, demikian perkiraan studi contoh iklim itu.

Kenaikan permukaan air laut akibat peningkatan panas karena temperatur air menghangat akan menjadi 14 sentimeter (sekitar 5,5 inci) dan bukan 22 sentimeter (8,7 inci). Kenaikan mencolok permukaan air laut diperkirakan akan terjadi karena pencairan lapisan es dan gletser.

Volume es Kutub Utara pada musim panas menyusut sebanyak seperempat dan diperkirakan akan stabil paling lambat pada 2100. Suatu penelitian telah menyatakan, es musim panas akan hilang sama sekali pada abad ini jika buangan gas tetap pada tingkat saat ini.

Pemanasan Kutub Utara akan berkurang separuhnya sehingga membantu melestarikan populasi ikan dan burung laut serta hewan mamalia laut di wilayah seperti di bagian utara Laut Bering.

Perubahan salju regional secara mencolok, termasuk penurunan salju di US Southwest dan peningkatan di US Norhteast serta Kanada, akan berkurang sampai separuh kalau buangan gas dapat dipertahankan pada tingkat 450 ppm.

Sistem cuaca itu akan stabil sampai sekitar 2100, dan bukan terus menghangat. Tim penelitian tersebut menggunakan simulasi superkomputer guna membandingkan skenario peristiwa biasa melalui pengurangan dramatis buangan karbon dioksida yang dimulai dalam waktu sekitar satu dasawarsa.

Penulis kajian tersebut menegaskan, mereka tidak mengkaji bagaimana pengurangan seperti itu dapat dicapai atau menyarankan kebijakan tertentu.

"Tujuan kami ialah menyediakan bagi pembuat kebijakan penelitian yang sesuai sehingga mereka dapat membuat keputusan setelah mendapat keterangan," kata Washington.

"Studi ini menyediakan suatu harapan bahwa kita dapat menghindari dampak terburuk perubahan iklim, jika masyarakat dapat mengurangi buangan dalam jumlah besar selama beberapa dasawarsa mendatang dan melanjutkan pengurangan utama sepanjang abad ini."